Sebuah kapal komersial tampaknya disita oleh personel yang tidak berwenang di dekat Uni Emirat Arab pada Kamis pagi, menambah ketidakpastian atas kendali Selat Hormuz yang penting. Kapal, yang identitasnya tidak diungkapkan, tersebut dibawa sejauh 38 mil laut dari pantai UEA, kata UK Maritime Trade Operations, menambahkan bahwa kapal tersebut menuju Republik Islam Iran.
Insiden ini terjadi saat tampaknya ada peningkatan jumlah kapal yang melintasi selat tersebut, yang biasanya menangani sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Penutupan efektif selat sejak AS dan Israel mulai membombardir Iran pada akhir Februari telah mengacaukan pasar energi dan menyebabkan kelangkaan pasokan global.
Iran mengatakan sejumlah kapal China akan melintasi selat setelah ada diskusi dengan Kementerian Luar Negeri Beijing, seperti dilaporkan oleh kantor berita semi-resmi Fars, mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya. Kapal-kapal tersebut akan diizinkan melintas sesuai dengan “protokol manajemen Iran,” tambah kantor berita tersebut.
Laporan terpisah oleh televisi pemerintah Iran mengatakan lebih dari 30 kapal telah diizinkan melewati selat tersebut sejak Rabu malam, menurut pejabat dari Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam.
AS belum berkomentar mengenai pergerakan di titik krusial Teluk Persia, di mana mereka menolak mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Namun, 10 kapal yang mengangkut minyak, bahan bakar, dan gas telah berhasil melintas sejak Minggu, meningkat dibandingkan beberapa pekan terakhir.
Harga minyak pada Kamis stabil, di mana minyak mentah Brent diperdagangkan sekitar US$105 per barel setelah turun 2% pada sesi sebelumnya. Harga tersebut telah naik hampir 50% sejak perang dimulai, dan Dana Moneter Internasional (IMF) telah memperingatkan tentang perlambatan pertumbuhan global secara luas.
Gencatan senjata AS-Iran yang berlaku sejak 8 April secara umum tetap berlaku, meski negosiasi menemui jalan buntu. Iran terus menolak tuntutan AS untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menyatakan akan melakukannya hanya jika Washington mengakhiri blokade lautnya. Iran juga bersikeras agar AS mencairkan miliaran dolar aset Iran dan mencabut sanksi.
AS telah menghancurkan lebih dari 90% dari sekitar 8.000 ranjau laut milik Iran, kata komandan pasukan AS di Timur Tengah kepada anggota parlemen pada Kamis, sambil meremehkan kemampuan asimetris Iran—termasuk serangan drone terhadap kapal dan fasilitas energi di kawasan tersebut.
Meski telah dibombardir hebat oleh AS dan Israel selama berminggu-minggu, militer Iran masih memiliki banyak daya tembak. Penilaian intelijen AS menunjukkan Iran memiliki akses operasional ke 30 dari 33 pangkalan rudalnya di sepanjang Selat Hormuz dan masih mempertahankan sekitar 70% dari persediaan rudal sebelum perang, menurut laporan New York Times, yang mengutip informasi rahasia.
India mengutuk serangan terhadap salah satu kapalnya di Teluk Oman, yang tenggelam setelah terbakar, menyebut insiden itu "tidak dapat diterima." Ke-14 awak kapal berhasil diselamatkan oleh Penjaga Pantai Oman, kata seorang pejabat di kementerian perhubungan laut negara itu.
Perang ini mengguncang geopolitik Timur Tengah, di mana salah satu pergeseran signifikan berupa kerja sama militer dan intelijen yang lebih erat antara UEA dan Israel.
Kedua negara, yang menjalin hubungan diplomatik melalui Perjanjian Abraham yang didukung AS selama masa jabatan pertama Trump, berkoordinasi dalam serangan udara terhadap Iran pada awal April, seperti dilaporkan Bloomberg.
Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Rabu mengatakan bahwa ia melakukan kunjungan rahasia ke UEA selama perang, meski UEA membantah klaim tersebut.
(bbn)




























