Laju kenaikan harga emas dunia didorong oleh sentimen asa perdamaian di Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberi sinyal adanya kemajuan menuju kesepakatan final dengan Iran.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan gencatan senjata dengan Iran masih berlangsung dan terus dihormati. Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, Menteri Luar Negeri Iran turut menegaskan perundingan damai telah “mencapai kemajuan”.
Perkembangan terbaru ini menyeret turun harga minyak di pasar global. Siang hari ini, berdasarkan data Bloomberg, harga minyak jenis brent jatuh 5% ke US$108,19 per barel.
Emas diuntungkan bila harga minyak bisa lebih terkendali, dengan itu dunia bisa meredam risiko inflasi tinggi. Bank sentral bisa punya ruang untuk melonggarkan kebijakan moneter melalui penurunan suku bunga acuan.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non–yielding asset). Memegang emas akan terasa lebih menguntungkan saat suku bunga turun.
Secara teknikal, ada kemungkinan harga bisa naik lagi. target resistance terdekat adalah US$4.740 per troy ounce. Jika tertembus dengan volume besar, maka US$4.800 per troy ounce jadi target selanjutnya.
Target paling optimistis atau resistance terjauh adalah US$5.000 per troy ounce.
Namun jika harga emas kembali melemah, maka cermati pivot point di US$4.550 per troy ounce. Dari sini, ada risiko untuk menguji support US$4.500 per troy ounce.
(fad/aji)































