Selain itu, Kilala mengungkapkan, harga plastik bahkan sempat melonjak hingga 200% dalam satu bulan terakhir. Kondisi ini menjadi tantangan serius, mengingat struktur biaya dalam industri kosmetik sangat bergantung pada kemasan.
“Kalau harga plastik naik sampai 150% atau 200%, otomatis harga mau nggak mau harus naik. Nggak mungkin jual rugi,” ujar Kilala.
Menurutnya, komposisi biaya kosmetik terdiri dari sekitar 60% packaging dan 40% bahan baku. Dengan dominasi biaya kemasan tersebut, lonjakan harga plastik langsung berdampak signifikan terhadap keseluruhan biaya produksi.
Ia mengakui kondisi ini membuat industri berada dalam tekanan. Tidak hanya kosmetik, sektor lain seperti makanan juga mengalami kesulitan akibat kenaikan harga plastik. “Ini sangat challenging. Banyak industri dari makanan sampai kosmetik kesulitan karena masalah plastik ini,” katanya.
Terkait mitigasi jangka panjang, Kilala menyebut pihaknya belum memiliki strategi yang matang. Kenaikan harga yang terjadi secara tiba-tiba membuat pelaku industri masih dalam tahap penyesuaian.
“Terus terang belum. Kita masih syok dengan kenaikan yang tiba-tiba ini,” ujarnya.
Ia menjelaskan, salah satu pemicu kenaikan berasal dari bahan baku biji plastik yang masih bergantung pada impor. Ketergantungan tersebut membuat harga rentan terhadap dinamika global, termasuk pasokan dari negara produsen.
Saat ditanya mengenai alternatif pengganti plastik, Kilala menilai opsi yang tersedia masih sangat terbatas. “Plastik ya nggak bisa digantikan. Alternatif paling mungkin hanya kaca,” katanya.
Meski demikian, dari sisi penjualan, kinerja perusahaan masih terjaga. Kilala memastikan penjualan pada kuartal pertama dan kedua tetap menunjukkan tren positif.
“Penjualan sih oke. Kuartal satu dan dua saya rasa perkembangan kosmetik masih bagus,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Perkosmi Sancoyo Antarikso menyatakan keputusan kenaikan harga akan kembali kepada masing-masing pelaku industri, seiring tekanan biaya yang dihadapi saat ini.
"Kita menyerahkan semuanya kepada pelaku industri apakah hal ini akan mempengaruhi harga,"ujarnya.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indonesia mengimpor plastik dan bahan plastik senilai US$873,2 juta pada Februari 2026 di tengah kenaikan harga plastik yang melambung karena pasokan bahan baku gangguan imbas eskalasi konflik Timur Tengah.
Kenaikan harga juga terjadi karena Indonesia mengimpor bahan baku plastik hingga 60%.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan plastik dan bahan plastik menjadi komoditas impor nonmigas yang memberikan defisit terbesar pada neraca perdagangan Januari-Februari 2026, yakni sebesar US$1,39 miliar.
Dia memperhitungkan komoditas impor tersebut berasal dari China sebesar US$380,1 juta, Thailand sebesar US$82,7 juta, dan juga dari Korea Selatan sebesar US$66,7 juta.
(dec)





























