Sementara itu, impor non-migas dari Australia mencapai US$3,14 miliar dengan kontribusi utama berasal dari logam mulia dan perhiasan atau permata yang mencatatkan share sebesar 37,92%.
“Impor logam mulia dan perhiasan dari Australia ini tumbuh relatif tinggi yaitu sampai mencapai 469,05% secara C-to-Cnya,” kata Ateng
Selain itu, komoditas serealia mencatatkan share 12,55% dengan kinerja yang lebih tinggi 38,36%. Sebaliknya, bahan bakar mineral mencatatkan share 9,58% dengan kinerja yang lebih rendah sebesar 21,52%.
Adapun impor non-migas dari Jepang tercatat sebesar US$2,90 miliar. Komoditas utama yang diimpor berasal dari mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya dengan share 20,37%, meski mencatatkan kinerja yang lebih rendah sebesar 24,80% secara kumulatif.
Selain itu, kendaraan dan bagiannya mencatatkan share 12,78% dengan kinerja yang lebih rendah sebesar 38,36%, diikuti besi dan baja dengan share 12,75% yang juga mencatatkan kinerja yang lebih rendah sebesar 23,24%.
(ell)



























