Logo Bloomberg Technoz

Sekadar informasi, PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) atau PGN melalui anak usahanya PT Gagas Energi Indonesia menyambut langkah Bahlil  untuk mengkaji perluasan pemanfaatan gas alam terkompresi atau CNG.

Saat ini, PGN Gagas mengoperasikan 14 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) di 7 provinsi, dengan rata-rata pengisian sekitar 2.200 kendaraan per hari untuk layanan CNG masyarakat atau Gasku. Sementara untuk industri, PGN Gagas melayani lebih dari 600 pelanggan dengan total penyaluran mencapai 4.067.002 million british thermal unit (MMBTU) sepanjang 2025.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat bertemu awak media di Istana Negara, Jakarta, Rabu (11/2/2026). (Bloomberg Technoz/Dovana Hasiana)

Direktur Utama PGN Gagas Santiaji Gunawan mengungkapkan bahwa tahun lalu perseroan penyaluran 4,6 juta MMBTU gas bumi melalui layanan CNG dan gas alam cair atau liquified natural gas (LNG).

“Kami melihat ini bukan soal menggantikan satu energi dengan energi lain, melainkan memperluas pilihan. CNG merupakan salah satu opsi energi yang telah tersedia dan dapat terus dikembangkan secara bertahap sesuai dengan arah kebijakan pemerintah,” kata Santiaji.

Di sisi lain, anak usaha PGN tersebut juga mengelola fasilitas kompresi gas, armada pengangkutan, serta infrastruktur lainnya. Santiaji menambahkan, PGN Gagas siap mengembangkan pemanfaatan CNG secara bertahap, termasuk mempertimbangkan aspek keekonomian, kesiapan infrastruktur, serta kebutuhan pasar.

Selain itu, pasokan gas bumi yang merupakan bahan baku CNG juga terintegrasi dengan jaringan infrastruktur PGN.

“Kami siap berkontribusi secara optimal sebagai mitra pemerintah, sesuai dengan kebutuhan dan arah kebijakan yang ditetapkan, dalam mendukung terwujudnya kemandirian dan ketahanan energi nasional,” kata Santiaji.

Diprediksi Pakar

Adapun, pemerintah sudah melakukan sejumlah langkah untuk mengatasi potensi gangguan pasokan impor LPG gegara ditutupnya Selat Hormuz. Ditjen Migas Kementerian ESDM sebelumnya menginstruksikan kilang LPG swasta untuk mengalihkan peruntukkan penjualan LPG industri ke PT Pertamina Patra Niaga (PPN). Nantinya, LPG yang dijual ke PPN tersebut bakal dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Direktur Utama PT Petrogas Jatim Utama Cendana (PJUC) Hadi Ismoyo memprediksi volume LPG yang dialihkan untuk konsumsi masyarakat umum mencapai 400.000 ton, sebab kebutuhan LPG diperkirakan berada di sekitar 5% dari total kebutuhan nasional sebesar 8,7 juta ton.

“LPG untuk industri hanya sekitar 5% dari kebutuhan nasional 8,7 juta ton per tahun. [Total LPG untuk industri yang bisa dialihkan] sekitar 0.4 juta ton,” kata Hadi ketika dihubungi, Jumat (10/4/2026).

Hadi memprediksi konsumsi CNG bakal meningkat efek dari pengalihan LPG industri untuk konsumsi masyarakat. Dia menjelaskan dunia usaha dapat menggunakan produk mini CNG tube, CNG, dan mini LNG, jika kebutuhan LPG-nya tak terpenuhi.

Hadi mengungkapkan, dari sisi biaya, sumber energi tersebut lebih kompetitif karena harga per satuan kalorinya lebih murah sekitar 20% hingga 30% dibandingkan dengan LPG.

“Tinggal meningkatkan konektivitas dan memasang kompresor di setiap jaringan pipa dalam jarak tertentu, CNG bisa didistribusikan ke kawasan-kawasan industri,” tegasnya.

Berdasarkan perhitungannya, kebutuhan LPG industri sekitar 400.000 ton setara dengan CNG sekitar 50—60 standar kaki kubik per hari (MMSCFD). 

“Hitungan kasar 0.4 juta ton itu setara dengan 50—60 MMSCFD saja. Produksi nasional gas sekitar 6.000 MMSCFD,” ungkap Hadi.

(wep)

No more pages