Jam tangan kecil juga selaras dengan tren kemewahan yang tenang (atau privat), tetapi faktor penting lain dalam popularitasnya adalah kemudahan untuk ditumpuk (dipakai bersamaan) “dengan gelang yang sudah dimiliki perempuan di lemari mereka,” kata Melanie Chud, presiden ritel di 1916 Co., pemilik puluhan toko perhiasan dan jam tangan bekas di Amerika. “Ketika kami menunjukkan kepada pelanggan betapa serasinya gelang mereka dengan jam tangan kecil, tiba-tiba wajah mereka berseri karena tampilannya terasa sangat pas bagi mereka.”
Keinginan konsumen akan fleksibilitas dan kemudahan pemakaian ini bermuara pada satu hal: semakin kecil ukuran casing, semakin besar peluang bagi merek-merek warisan seperti Rolex, Cartier, Piaget, Dior, Jaeger-LeCoultre, dan lainnya.
Rolex baru saja menambahkan dua model Oyster Perpetual baru dalam ukuran 28 mm dan 34 mm pada ajang Watches and Wonders di Jenewa, dan para penggemar terpikat pada versi 28 mm berbahan emas kuning 18 karat dengan dial batu hijau dan gelang Oyster.
Demikian pula, Cartier meluncurkan beberapa jam tangan kecil baru tahun ini, termasuk Baignoire berbentuk oval seperti gelang dengan hiasan Clous de Paris (berbentuk piramida) di seluruh casing dan dial, serta beberapa model Tank berukuran sangat kecil.
Cartier memiliki sejarah panjang dalam bentuk-bentuk inovatif berukuran kecil. Menurut direktur citra, gaya, dan warisannya, Pierre Rainero, Baignoire versi saat ini lahir pada 1958, namun bentuk oval telah menjadi ciri khas Cartier sejak awal abad ke-20. Konsistensi bentuk tersebut, kata Rainero, menjadi kunci kesuksesan Baignoire.
“Model baru ini menampilkan Clous de Paris di seluruh casing bahkan hingga ke dial,” lanjutnya, “dan ini menunjukkan pendekatan khas Cartier sebagai pembuat perhiasan: mempelajari sebuah karya sebagai perhiasan, lalu mengambil kebebasan inovatif dan kreatif.”
Bahkan, banyak merek melakukan perubahan kecil pada referensi vintage agar terasa lebih kontemporer — mulai dari sentuhan dekoratif dan aksen, penempatan batu permata pada casing atau dial, hingga penggunaan material dua warna seperti baja dan emas kuning yang memungkinkan jam menyatu indah dengan koleksi perhiasan yang sudah ada. Bentuk seperti persegi, persegi panjang, dan oval, serta motif asimetris, juga dapat menyegarkan tampilan.
Pergeseran ke jam tangan yang lebih kecil terjadi di semua rentang harga. Di segmen atas, dengan harga puluhan ribu dolar, jam mini bertatahkan permata yang mengingatkan pada jam koktail era 1950-an sangat menonjol. Namun, tersedia pula banyak pilihan di kisaran beberapa ribu dolar, bahkan di kelas ratusan dolar, seperti Citizen Eco-Drive Fio terbaru dan Frederique Constant Manchette dengan dial pirus.
Menurut Wallner, perempuan muda kini menemukan jam tangan di toko barang bekas dan bahkan “menggeledah” kotak perhiasan lama milik nenek mereka untuk mencari jam kecil ini — lalu memodernkannya dengan gaya pribadi mereka sendiri.
“Apa yang dulu terasa terlalu kuno kini justru diadopsi oleh generasi baru. Ini hanya soal styling,” ujarnya. “Mungkin mereka memakainya dengan streetwear, atau jeans dan kaus, dan tiba-tiba terlihat keren. Anda yang memakai jam itu; bukan jam yang ‘memakai’ Anda.”
Wallner menambahkan bahwa jam tangan kecil dari merek-merek elite juga cenderung kurang dihargai di pasar sekunder, sehingga pembeli cerdas bisa menemukan penawaran menarik.
Eugene Tutunikov, kepala eksekutif peritel jam tangan bekas SwissWatchExpo, sepakat. “Kami melihat permintaan untuk casing di bawah 30 mm melonjak, didorong oleh nostalgia terhadap glamor era 1980-an dan 1990-an, serta karena perempuan menginginkan jam yang cocok dipadukan dalam tumpukan aksesori,” katanya. “Ternyata, selera nenek memang luar biasa sejak dulu.”
(bbn)




























