Sebagai gambaran, Dony menjelaskan kebutuhan BBM dalam negeri adalah 1,6 juta bph. Namun, selama ini produksi BBM dalam negeri hanya mencapai 600 juta bph. Walhasil, Indonesia harus mengimpor BBM sebesar 1 juta bph.
"Target kita adalah menjadi 70.000 barel per hari. Kalau 70.000 barel per hari, itu kurang lebih 10% dari total impor kita yang akan berkurang. [Kapasitas bisa 70.000 bph] ini tadi kita harapkan dalam dua tahun, maksimal tiga tahun akan selesai," ujar Dony.
Berdasarkan data Berita Resmi Statistik BPS, yang dirilis Rabu (1/4/2026), impor BBM Januari—Februari 2026 sebesar 9,59 juta ton atau US$5,16 miliar dari periode yang sama tahun lalu, atau secara volume impor BBM turun 15,68% dan secara nilai menurun 3,05%.
Sementara itu, menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pada 2025 Indonesia tercatat mengimpor BBM paling banyak dari Singapura dan Malaysia.
Terdapat negara lainnya yang turut menjadi sumber impor BBM RI, antara lain China, Korea Selatan, Oman, Uni Emirat Arab (UEA), India, Mesir, Jepang, dan Taiwan.
(dov/wdh)





























