Logo Bloomberg Technoz

Saham–saham konsumen primer, saham infrastruktur, dan saham keuangan menjadi penyebab pelemahan IHSG dengan minus mencapai 1,18%, 0,72% dan 0,58%.

Bursa Saham Asia lain yang berhasil menguat, Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), TOPIX (Jepang), KOSPI (Korea Selatan), KLCI (Malaysia), dan Straits Times (Singapura) yang menguat masing–masing mencapai 0,96%, 0,84%, 0,47%, 0,18%, dan 0,1%.

Di sisi berseberangan bersama dengan IHSG, NIKKEI 225 (Tokyo), Shenzhen Comp. (China), Hang Seng (Hong Kong), PSEI (Filipina), SETI (Thailand), Shanghai Composite (China), CSI 300 (China), Weighted Index (Taiwan), dan SENSEX (India), yang melemah dan drop dengan masing–masing 1,14%, 1%, 1%, 0,81%, 0,51%, 0,26%, 0,25%, 0,24%, dan 0,18%.

Kenaikan sejumlah Bursa Saham Asia sejalan dengan momentum di Wall Street Amerika Serikat (AS) dini hari tadi.

Pada perdagangan sebelumnya, Bursa Wall Street didominasi zona hijau. Nasdaq Composite, dan S&P 500 masing–masing melesat dengan dengan kenaikan 0,2%, dan 0,1%.

Sentimen yang memengaruhi Bursa Asia, termasuk IHSG hari ini adalah datang dari kehati–hatian investor menghadapi perkembangan di Selat Hormuz.

Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, Gedung Putih menyatakan pejabat Amerika Serikat (AS) sedang mendiskusikan proposal terbaru dari Iran. Namun, Washington tetap mempertahankan batasan tegas dalam kesepakatan apa pun untuk menyudahi perang delapan minggu tersebut, termasuk mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir.

Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyebutkan, Donald Trump telah menggelar pertemuan dengan pejabat keamanan nasional untuk membahas proposal Iran. Komentar ini menyusul laporan Teheran mengusulkan kesepakatan sementara: pembukaan kembali Selat Hormuz dengan imbalan penghentian blokade pelabuhan oleh Washington.

Pasar amat mencermati langkah selanjutnya menuju perundingan damai perang Iran, di tengah–tengah jalur vital Selat Hormuz masih hampir tidak dapat dilalui.

Energi global sangat fokus pada lalu lintas melalui Hormuz, yang telah menyusut hingga hampir nol selama dua bulan karena Iran dan AS memberlakukan blokade yang saling bersaing. 

Terlebih lagi, kehati–hatian pasar terhadap arah kebijakan moneter global. Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed), Bank Sentral Eropa (ECB), serta Bank Sentral Jepang, Inggris, dan Kanada diagendakan untuk menetapkan suku bunga. Secara kolektif, keputusan mereka akan memengaruhi kebijakan ekonomi untuk separuh dunia.

Pasar bersiaga terhadap sinyal dari pejabat seperti Gubernur The Fed Jerome Powell dan Gubernur ECB Christine Lagarde. Investor mencari tahu apakah mereka mulai cemas terhadap ancaman inflasi akibat gangguan pasokan minyak yang dipicu oleh perang.

“Nada dalam konferensi pers nanti akan menekankan sikap kehati–hatian untuk tetap menunggu dan melihat (wait–and–see). Namun, kami menduga investor mendekati titik di mana mereka berharap The Fed memiliki keyakinan yang lebih kuat terhadap dampak guncangan energi—meskipun kecil kemungkinan hal itu akan dikomunikasikan secara gamblang,” papar Ian Lyngen dari BMO Capital Markets, mengutip Bloomberg News.

Phillip Sekuritas Indonesia memaparkan, Federal Reserve pada Selasa memulai pertemuan kebijakan moneternya selama dua hari.

“Federal Reserve diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di tengah konflik dengan Iran yang telah mengaburkan prospek inflasi,” terang Philip dalam catatan terbarunya, Selasa.

(fad)

No more pages