Dengan demikian, saham bank pelat merah itu masih memiliki potensi kenaikan atau return potential sekitar 42,6% dalam satu tahun ke depan.
Malahan, Maybank Sekuritas menyematkan target harga Rp4.300 per saham untuk BBRI dengan pertimbangan estimasi P/BV dan P/E tahun 2026 masing-masing di level 1,5 kali dan 8,5 kali.
Selain itu, Maybank turut menyoroti pertumbuhan laba bersih bank only BBRI menjadi Rp7,7 triliun sepanjang Januari-Februari 2026, naik 17% secara tahunan.
Peningkatan ini didorong oleh penurunan pencadangan sebesar 15,8% secara tahunan, sementara pendapatan bunga bersih tumbuh 4,8% pada periode dua bulanan 2026.
“Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan laba lebih banyak ditopang oleh penurunan biaya kredit dibandingkan penguatan momentum operasional,” dikutip dari riset Maybank Sekuritas yang disusun Jeffrosenberg Chenlim dan Faiq Asad, Minggu (26/4/2026).
Sementara itu, total kredit Januari-Februari 2026 naik 10,5% ke level Rp1.346 triliun meskipun turun 0,6% secara bulanan.
Jeffrosenberg dan Faiq berpendapat kenaikan ini menunjukkan pertumbuhan kredit tetap sehat kendati mulai melandai.
“Kami memperkirakan pertumbuhan akan tetap ditopang oleh segmen non-mikro, sementara portofolio mikro kemungkinan menjadi lebih selektif,” kata mereka.
Di sisi lain, dana pihak ketiga naik 9,3% secara tahunan menjadi Rp1.509 triliun sepanjang periode dua bulanan 2026, relatif sejalan dengan pertumbuhan kredit dan menjaga likuiditas tetap terkelola, dengan rasio loan-to-deposit (LDR) sebesar 89,2%.
Rasio CASA tetap solid di 67,4%, naik 257 bps YoY, meskipun turun 246 bps MoM seiring normalisasi giro dan kenaikan deposito berjangka sebesar 9,1% MoM.
“NIM Feb’26 turun ke 6,13%, namun penurunan biaya kredit membantu meredakan tekanan terhadap margin,” tulis mereka.
Pertumbuhan Kredit
Bank Rakyat Indonesia, dengan return on equity (RoE) rata-rata sekitar 20% selama satu dekade terakhir, berpotensi tetap menjadi salah satu bank paling menguntungkan di Asia Tenggara.
Bisnis mikro, yang menyumbang 43% dari portofolio kredit, akan terus menjadi pendorong ekspansi neraca jangka panjang.
Kendati demikian, analis dari Bloomberg Intelligence Sarah Jane Mahmud dan Alison Hor berpendapat BBRI mesti menjaga kualitas aset di segmen ini karena berisiko mengalami penurunan lebih lanjut.
Mereka berpendapat masuknya barang murah dari China dan tekanan inflasi dapat membatasi kemampuan usaha mikro dalam membayar utang.
“Penyaluran kredit diperkirakan tetap sehat, di kisaran high single digit, dengan fokus yang lebih tajam pada pembiayaan kendaraan dan perumahan,” tulis Mahmud dan Hor dalam risetnya.
“Margin masih berada di bawah tekanan akibat penurunan yield aset, namun pelonggaran bertahap pada biaya dana akan membatasi penyusutan margin tersebut,” tulis mereka.
Di sisi lain, pertumbuhan laba Bank Rakyat Indonesia pada kuartal I kemungkinan tertahan oleh peningkatan pencadangan sebagai langkah antisipasi terhadap penurunan kualitas aset.
“Kami memperkirakan terjadi pelemahan moderat pada rasio kredit bermasalah (NPL) yang berada di level 3,1%, seiring potensi masuknya barang murah dari China akibat pembatasan tarif AS serta inflasi yang berada di atas target sebesar 2,63% YoY pada Februari, yang dapat menekan profitabilitas usaha mikro dan kecil,” kata mereka.
Di sisi lain, tekanan margin kemungkinan masih berlanjut akibat penurunan yield aset, seiring dampak dari dua kali pemangkasan suku bunga kebijakan bank sentral yang tidak terduga sejak paruh kedua 2025.
“Kami memperkirakan pertumbuhan kredit tetap sehat di level low double digit, didukung oleh peningkatan permintaan ritel selama Ramadan, meskipun peningkatan penarikan dana rumah tangga terkait periode tersebut kemungkinan menekan rasio loan-to-deposit (LDR) bank yang berada di 91,4%,” kata mereka.
(naw)


























