“Bisa Percepat saja belanja-belanja lembaga yang agak lambat sehingga uang masuk ke sistem. Nanti kita monitor hati-hati dengan lebih cermat,” katanya.
Sebelumnya diberitakan bahwa Bendahara Negara masih optimis untuk dapat mencapai target pertumbuhan tahun 2026 sebesar 5,4% - 6% di tengah ketegangan global yang sedang berlangsung.
Optimisme tersebut berasal dari basis ekonomi Indonesia yang solid seperti posisi eksternal yang kuat yang ditandai dengan surplus perdagangan selama 70 bulan berturut-turut hingga awal 2026.
Selain itu, optimisme juga terlihat dari perekonomian domestik Indonesia yang tangguh yang ditopang dari konsumsi rumah tangga yang kuat, pertumbuhan stabil, inflasi terkendali, defisit fiskal yang terkelola, rasio utang terhadap PDB yang rendah, dan kebijakan hilirisasi yang berkelanjutan.
Menkeu menambahkan bahwa pemerintah akan tetap waspada terhadap dinamika di Timur Tengah dan potensi dampaknya terhadap harga energi global. Pemerintah telah memprioritaskan pembentukan fiscal buffer untuk menyerap guncangan harga dan memastikan bahwa bahan bakar bersubsidi tetap stabil untuk melindungi daya beli masyarakat.
Respons kebijakan pemerintah yaitu dengan efisiensi pengeluaran negara dan transformasi struktural jangka panjang dengan mempercepat inisiatif hilirisasi.
(ell)


























