Logo Bloomberg Technoz

“Apapun yang terjadi, Indonesia aman untuk satu tahun ini, bahkan mungkin dua tahun,” kata Hashim.

Stabilitas Makro Jadi Fondasi Daya Tarik

Selain sektor pangan, perhatian juga tertuju pada sektor energi. Meskipun Indonesia masih bergantung pada impor, langkah diplomasi dinilai mampu menjaga ketersediaan pasokan energi nasional.

“Kita mendapatkan suplai sekitar 100 juta barrel dari Rusia, dan ini akan mulai dikirim dalam waktu dekat. Kita juga memiliki opsi tambahan hingga sekitar 50 juta barrel,” ujarnya.

Di sisi makro, kondisi ekonomi Indonesia dinilai tetap solid. Surplus neraca perdagangan yang mencapai sekitar US$27 miliar menjadi salah satu indikator kekuatan ekonomi nasional di tengah tekanan global.

“Kita memiliki surplus sekitar US$27 miliar dan tidak perlu bergantung pada fasilitas pembiayaan eksternal,” ujarnya.

Pemerintah juga terus menjaga disiplin fiskal sebagai bagian dari upaya mempertahankan stabilitas ekonomi. Hal ini disampaikan Deputi Bidang Perencanaan Makro Pembangunan Bappenas, Eka Chandra Buana.

“Sampai saat ini tidak ada niat untuk memperlebar defisit. Justru yang kita dorong adalah bagaimana belanja menjadi lebih produktif dan berdaya ungkit bagi ekonomi nasional,” ujarnya.

Eka menambahkan bahwa pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif untuk menghadapi potensi risiko global. Pendekatan ini mencerminkan kesiapan dalam menghadapi berbagai skenario yang mungkin terjadi.

“Kita sudah punya ancang-ancang dan persiapan untuk menghadapi berbagai skenario,” kata Eka.

Seiring dengan stabilitas yang terjaga, investor global mulai melihat adanya perbaikan fundamental ekonomi Indonesia. Hal ini tercermin dari sejumlah indikator pasar yang menunjukkan tren positif dalam beberapa bulan terakhir.

Managing Partner Ashmore Asset Management Indonesia, Arief Wana, menyebutkan bahwa faktor pertumbuhan menjadi pertimbangan utama dalam keputusan investasi.

“Dalam enam bulan terakhir, trajectory dari growth itu sudah membaik. Money supply meningkat, interest rate turun, bond yield juga sudah turun, bond price naik, dan equity juga membaik,” katanya.

Dari sisi valuasi, pasar Indonesia dinilai masih relatif menarik dibandingkan negara lain. Rasio price-to-earnings yang lebih rendah memberikan ruang bagi potensi kenaikan di masa depan.

“Indonesia memiliki PE Ratio di 11,8x. Kalau kita bandingkan dengan negara-negara tetangga, Indonesia ini murah,” kata Arief.

Meski demikian, investor tetap mencermati sejumlah risiko, terutama terkait keberlanjutan pertumbuhan. Arief memperkirakan pertumbuhan laba perusahaan akan lebih moderat dibandingkan proyeksi awal.

“Awalnya kita melihat sekitar 12–15%, tapi sekarang sekitar 7%,” ujarnya.

Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan terus memperkuat fondasi pasar modal untuk meningkatkan daya tarik investasi. Reformasi yang dilakukan difokuskan pada peningkatan transparansi dan tata kelola.

Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Henry Rialdi, menegaskan pentingnya ketersediaan informasi bagi investor.

“Salah satu isu yang disampaikan adalah adanya gap antara informasi yang tersedia dengan kebutuhan investor di pasar modal, khususnya dari sisi availability of information dan transparansi,” ujarnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, OJK mendorong berbagai inisiatif reformasi yang berfokus pada transparansi, penegakan aturan, serta pengembangan instrumen pasar.

“Langkah reformasi ini kami arahkan pada tiga hal utama, yaitu transparansi, enforcement dan governance, serta pengembangan instrumen agar pasar kita lebih kompetitif,” kata Henry.

Sejumlah langkah konkret telah dilakukan, termasuk peningkatan keterbukaan data kepemilikan saham dan penguatan aturan free float. Upaya ini bertujuan menciptakan pasar yang lebih sehat dan terpercaya.

Pengakuan internasional juga mulai terlihat. FTSE Russell mempertahankan status Indonesia sebagai Secondary Emerging Market, sementara MSCI memberikan apresiasi atas peningkatan transparansi pasar.

Dengan berbagai indikator tersebut, Indonesia dinilai memiliki fondasi yang cukup kuat untuk tetap menarik bagi investor global. Kombinasi antara stabilitas makro, reformasi struktural, dan prospek pertumbuhan menjadi faktor kunci yang menjaga optimisme terhadap ekonomi nasional.

(tim)

No more pages