Logo Bloomberg Technoz

Mengutip riset Phillip Sekuritas, sejatinya IHSG terdorong sentimen positif harapan atas kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Namun yang jadi perhatian, belum ada agenda resmi yang ditetapkan perihal pertemuan tersebut.

“Meskipun kami merasa perlu untuk tetap skeptis terhadap optimisme yang digerakkan oleh berita utama ini, indikator tren dasar menunjukkan perbaikan dari titik terendah Maret—setidaknya sampai ada berita utama berikutnya yang membuktikan sebaliknya,” terang Craig Johnson dari Piper Sandler, mengutip Bloomberg News.

Dari dalam negeri, nilai tukar rupiah masih berfluktuasi dengan kecenderungan melemah usai menembus level terlemah sepanjang sejarah, mencerminkan investor masih memasang premi risiko yang tinggi bagi aset berdenominasi rupiah.

Baru–baru ini, S&P Global Ratings menilai Indonesia lebih rentan terdampak guncangan energi karena kondisi fiskalnya. Berbeda dengan Malaysia yang meski mengalami beban subsidi dan defisit karena kenaikan harga minyak, tetapi memiliki posisi lebih kuat karena memiliki struktur ekonomi yang lebih terdiversifikasi.

Dalam konteks Indonesia, konflik yang terjadi dan telah menyebabkan kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan biaya subsidi dan menekan anggaran negara. Impor minyak yang lebih mahal juga akan memperlebar defisit transaksi berjalan.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak juga mempercepat laju inflasi dan dapat mendorong kenaikan suku bunga di pasar, yang pada ujungnya meningkatkan biaya utang pemerintah. 

Sedang Phintraco Sekuritas menuturkan, IHSG secara teknikal memiliki Stochastic RSI berada pada area jenuh beli (overbought) dan MACD berada pada area positif dengan histogram yang menunjukan penyempitan.

“Dengan kondisi tersebut, diperkirakan IHSG bergerak dalam rentang 7.550–7.700 pada Sesi II perdagangan hari ini,” sebut Phintraco Sekuritas.

(fad/aji)

No more pages