Logo Bloomberg Technoz

Begitu juga dengan saham–saham unggulan LQ45 juga tercatat dalam tren negatif. Adapun saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terpeleset mencapai 1,5%, disusul oleh saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) drop 1,1%, dan saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) amblas 1%.

Rupiah All Time Low

Rupiah pada perdagangan pagi hari ini melanjutkan trennya di zona pelemahan, hingga menyeret IHSG ke zona merah, ini merupakan hari ke–lima berturut-turut rupiah melemah, hingga mencetak level All Time Low/ATL baru.

Rupiah All Time Low Rp17.138/US$ (Bloomberg)

Mengacu data Bloomberg, rupiah tengah melemah 0,09% di pasar spot menyentuh Rp17.138/US$. Pada pembukaan perdagangan pagi tadi, rupiah dibuka melemah Rp17.120/US$.

Kinerja rupiah yang melaju di tren negatif, terjadi ketika dolar AS cenderung melandai di level 98,197, usai menguat tipis 0,07% point–to–point.

Jika nilai rupiah terus melanjutkan pelemahan pada perdagangan hari ini, support menarik dicermati pada level Rp17.150/US$ dan selanjutnya Rp17.200/US$ secara potensial menahan rupiah.

Padahal, sentimen global dirasa mulai membaik, harga minyak mulai jinak di tengah redanya tensi perang antara AS dan Iran dengan rencana kesepakatan gencatan senjata. Namun memang, penurunan harga tersebut tampaknya belum cukup kuat untuk mengangkat kembali katalis terhadap rupiah secara signifikan.

Mencermati sentimennya, di penghujung kuartal pertama tahun ini, permintaan dolar AS di dalam negeri masih cenderung tinggi. Kebutuhan ini datang dari segmen korporasi untuk pembayaran utang luar negeri dan kebutuhan impor. 

Di pasar valas, permintaan dolar AS dari dalam negeri meningkat, terutama seiring periode repatriasi dividen dan kebutuhan pembayaran impor. Hal ini menyebabkan adanya tekanan likuiditas di pasar valas. 

Repatriasi dividen ini memang bersifat musiman. Tapi saat ini efeknya jadi lebih terasa karena terjadi di tengah melemahnya fondasi eksternal Indonesia. 

Di sisi lain, penurunan cadangan devisa pada Maret juga jadi indikator bantalan stabilitas sepertinya mulai menipis, sehingga ruang manuver otoritas moneter jadi makin sempit.

Lebih lanjut, kecemasan akan meningkatnya anggaran subsidi energi juga masih membayangi laju rupiah. Sebab lain yang membuat tambah kusut ialah tekanan fiskal. Agenda kebijakan program prioritas pemerintah, membutuhkan ruang anggaran yang signifikan. 

Persepsi risiko terhadap aset di pasar negara berkembang termasuk Indonesia masih relatif tinggi, ketidakpastian global membuat aliran modal asing yang masuk belum cukup deras untuk bisa menopang penguatan rupiah secara berkelanjutan.

- Dengan asistensi dan analisis Dian Sari Pertiwi

(fad)

No more pages