Logo Bloomberg Technoz

Dalam kesempatan yang sama, Bessent juga menyinggung dampak perang di Iran. Meski sulit memprediksi kapan dampak konflik tersebut akan "mengejar" ekonomi AS, ia menegaskan bahwa kondisi ekonomi saat ini masih sangat kuat.

"Saya berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi masih bisa dengan mudah melampaui angka 3% hingga 3,5% tahun ini," ungkapnya optimis.

Ia juga menambahkan bahwa penurunan inflasi inti—yang mengecualikan harga energi dan pangan yang volatil—merupakan sinyal positif bagi pasar.

Bessent turut melontarkan kritik terhadap bank sentral AS terkait penanganan inflasi. Ia menilai Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) perlu lebih berani dalam menurunkan suku bunga.

"Menurut saya, The Fed telah keliru dalam menilai inflasi, dan kini inflasi inti mulai turun," kata Bessent. "Saya paham jika mereka ingin menunggu sampai data menjadi lebih jelas, namun itu berarti suku bunga seharusnya bisa turun jauh lebih banyak lagi."

Meski demikian, laporan bulan Maret menunjukkan bahwa walaupun inflasi inti mereda, indeks harga konsumen secara keseluruhan justru mencatatkan kenaikan tajam akibat melonjaknya harga bahan bakar minyak (BBM).

(bbn)

No more pages