Sebelum berangkat ke Rusia, Bahlil menyatakan akan membuka peluang untuk membahas kelanjutan investasi raksasa migas Rusia, PJSC Rosneft Oil Company, di proyek Grass Root Refinery (GRR) atau Kilang Tuban.
Kala itu, Bahlil mengaku belum mengetahui rencana keberangkatan Prabowo ke Rusia, tetapi dia menyatakan bisa saja membahas keberlanjutan investasi Rosneft tersebut jika Prabowo nantinya terbang ke Moskwa.
“Yang bilang berangkat ke Rusia siapa ya? Oh itu kan kerja sama perusahaan Rusia. Rosneft itu kan di [proyek Kilang] Tuban. Rosneft dengan Pertamina membangun satu kilang di sana. Nah, mungkin itu salah satu yang akan bisa kita follow up, tetapi itu kan B2B [business to business],” kata Bahlil kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (10/4/2026).
Kontrak Jangka Panjang
Terpisah, Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev menyatakan Indonesia tengah menjajaki peluang pembelian produk minyak dari Rusia dalam kontrak jangka panjang, menyatakan proses negosiasi tengah berlangsung.
Tsivilev turut hadir dalam pertemuan kenegaraan antara Putin dan Prabowo di Istana Kremlin, Senin (13/4/2026). Dalam kesempatan itu, Bahlil juga dalam ruangan yang sama.
Sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita Sputnik dan Interfax, Tsivilev menyatakan Rusia telah menerima permintaan dari Indonesia untuk memasok produk minyak dan saat ini tengah membahas kontrak jangka panjang dengan harga yang saling menguntungkan.
“Indonesia sebelumnya membeli sebagian besar produk energinya dari negara lain, seperti Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, dan Australia. Namun kini mereka melihat isu ini dalam konteks situasi terkini di Selat Hormuz serta keandalan pasokan. Saat ini kami secara serius tengah mempertimbangkan kontrak jangka panjang dengan harga yang saling menguntungkan,” ujar Tsivilev dalam sebuah wawancara dengan Channel One, sebagaimana dilaporkan Sputnik dan Interfax, Selasa (14/4/2026).
"Kami menerima permintaan dari rekan-rekan kami di Indonesia untuk memasok produk minyak bumi kepada mereka. Rusia selalu menampilkan diri di mata dunia sebagai pemasok yang dapat diandalkan," kata Tsivilev.
Di sisi lain, Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menyatakan Indonesia dan Rusia menyepakati kerja sama jangka panjang di sektor ESDM, tetapi dia enggan mengungkapkan bentuk kerja sama yang disepakati tersebut.
Teddy menjelaskan pertemuan kedua pemimpin berlangsung selama lima jam. Diawali dua jam pertemuan bilateral, dilanjutkan dengan tiga jam pertemuan empat mata antara kedua pemimpin.
Teddy mengungkapkan pada pertemuan tersebut kedua negara menyepakati sejumlah poin penting kerja sama strategis, khususnya di sektor ESDM yang menjadi prioritas jangka panjang kedua negara.
“Disepakati beberapa poin, antara lain kerja sama di sektor ESDM jangka panjang, termasuk ketahanan energi migas dan hilirisasi,” kata Teddy dalam keterangan tertulisnya, Selasa (14/4/2026).
Sekadar catatan, Indonesia dan Rusia sudah memiliki sejumlah rencana kerja sama di sektor energi, termasuk pada pembangunan kilang hingga potensi kerja sama pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).
Afiliasi PJSC Rosneft Oil Company di Singapura, Rosneft Singapore Pte Ltd, bersama PT Pertamina (Persero) tengah berencana membangun Grass Root Refinery (GRR) atau Kilang Tuban di Jawa Timur.
Selain itu, BUMN nuklir Rusia, Rosatom Corp, sempat mengajukan dua proposal pembangunan PLTN di Indonesia dalam pertemuan antarperwakilan bisnis RI-Rusia medio April 2025.
(azr/wdh)






























