Logo Bloomberg Technoz

Dalam skenario terburuk, harga minyak Brent bahkan berpotensi mencapai US$155 per barel pada kuartal II 2026 dan bertahan tinggi hingga 2027.

Kondisi ini berisiko menekan daya beli dan meningkatkan biaya produksi secara signifikan, khususnya bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia.

Secara keseluruhan, pertumbuhan kawasan bisa turun 1,3 poin persentase pada 2026–2027 dibanding skenario awal, sementara inflasi meningkat hingga 3,2 poin persentase. Gangguan rantai pasok dan pengetatan kondisi keuangan berpotensi memperparah dampak tersebut.

Jika konflik memburuk, kondisi keuangan global dan regional dapat semakin mengetat, memperparah kerentanan utang di negara dengan leverage tinggi serta menekan investasi dan permintaan eksternal.

Dalam skenario awal, pertumbuhan Asia dan Pasifik berkembang diproyeksikan melambat menjadi 5,1% pada 2026 dan 2027. Namun, jika gangguan berlanjut hingga kuartal III 2026, pertumbuhan dapat turun menjadi 4,7% pada 2026 dan 4,8% pada 2027.

ADB mencatat, aktivitas ekonomi tetap ditopang pasar tenaga kerja yang stabil, belanja infrastruktur, dan kebijakan yang akomodatif.

Namun konflik akan menekan pertumbuhan melalui kenaikan biaya produksi, harga konsumen, serta melemahnya permintaan eksternal dari perdagangan dan pariwisata.

Ketidakpastian perdagangan juga kembali meningkat. Pada Februari 2026, Amerika Serikat mengganti berbagai tarif menjadi tarif global 10% selama 150 hari, dengan potensi kenaikan hingga 15%. Kondisi ini dapat mendorong ekspor jangka pendek, tetapi ketidakpastian tinggi akan menekan investasi kawasan.

Pertumbuhan diperkirakan melambat di seluruh subkawasan. Di China, konsumsi tetap lemah akibat pertumbuhan pendapatan terbatas dan tekanan sektor properti. India masih tumbuh kuat, sementara kawasan Asia Tenggara berkembang relatif stabil berkat konsumsi domestik dan belanja infrastruktur, meski tetap tertekan oleh perdagangan global yang melemah.

(mef/ell)

No more pages