Dalam kesempatan itu, Wahyudi mengungkapkan ketahanan stok Pertalite per 7 April 2026 mencapai 18,1 hari, tercatat berada tipis di bawah batas minimum nasional sebesar 18,2 hari.
Adapun, stok Pertalite nasional per 7 April 2026 mencapai 1,51 juta kl. Dari besaran itu, rencana penyaluran harian atau daily objective throughput (DOT) mencapai 84.038 kl per hari, sehingga ketahanan stok nasional atau coverage days (CD) berada di level 18,1 hari.
Selanjutnya stok Pertamax atau RON 92 secara nasional dilaporkan 382.284 kl dengan penyaluran 17.329 kl per hari dan ketahanan stok 22,1 hari. Stok Pertamax tersebut lebih tinggi dari batas minimum 19,9 hari.
ertamax Turbo atau RON 98 memiliki stok 38.698 kl dengan penyaluran 832 kl per hari, sehingga ketahanan stok mencapai 46,5 hari, jauh di atas batas minimum 22,3 hari.
Lebih lanjut, pada BBM jenis Solar atau CN 48, stok nasional tercatat 1.575.287 kl dengan penyaluran harian 95.638 kl, menghasilkan ketahanan stok 16,5 hari. Stok Solar CN 48 tersebut tercatat di atas batas minimum 16,3 hari.
Pertamina Dex atau CN 53 memiliki stok 71.833 kl dengan penyaluran 1.113 kl per hari dan ketahanan stok mencapai 64,5 hari, jauh di atas batas minimum 24,9 hari.
“Kondisi stok BBM yang khusus untuk gasoil [solar] dan gasoline [bensin] ini memang pergerakannya sangat dinamis karena kebutuhan masyarakat,” ujar Wahyudi.
“Serta untuk keseimbangan stok yang terjaga, kami sudah konfirmasi dengan Pertamina Grup bahwasannya kilang, tetap produksi normal, tidak ada kegiatan-kegiatan maintenance, sehingga posisi fluktuatif ini terus terjaga dengan baik dan kondisinya memang sangat aman,” lanjut dia.
Sekadar informasi, berdasarkan data BPH Migas saat ini kapasitas penyimpanan BBM nasional mencapai 9,16 juta kl.
BPH Migas mencatat, dari besaran itu, sebanyak 67% atau 6,1 juta kl di antaranya merupakan milik Pertamina, sementara 33% penyimpanan BBM di RI atau 3,06 juta kl dimiliki non-Pertamina.
Selain itu, 2.05 juta penyimpanan BBM Indonesia atau sekitar 78% memiliki izin usaha penyimpanan (IUP) dan 7,1 juta lainnya memiliki izin usaha niaga umum (INU).
Dengan begitu, mayoritas tangki penyimpanan BBM Indonesia dimiliki oleh perusahaan niaga BBM atau operator stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Berikut 5 provinsi yang memiliki kapasitas penyimpanan BBM terbesar:
- Jawa Timur sebesar 1,15 juta kiloliter
- Jawa Barat sebesar 950.000 kiloliter
- DKI Jakarta sebesar 910.000 kiloliter
- Kepulauan Riau sebesar 890.000 kiloliter
- Banten sebesar 770.000 kiloliter
(azr/wdh)






























