"Artinya, saham CPO masih menarik sebagai defensive cyclical, tapi tidak lagi fase bullish," ujarnya
Ia menambahkan bahwa kinerja laba emiten CPO sepanjang 2025 yang tumbuh sekitar 35% secara tahunan pada umumnya sudah tercermin dalam harga saham, khususnya untuk emiten berkapitalisasi besar.
Untuk tahun ini, potensi peningkatan kinerja lebih banyak berasal dari volume dan stabilitas harga dibandingkan lonjakan harga baru. "Sehingga potensi kenaikan harga saham cenderung lebih terbatas," kata Reydi.
Dari sisi profitabilitas, margin emiten CPO diperkirakan tidak lagi mengalami ekspansi agresif. Reydi menilai margin cenderung stabil, dengan dukungan harga yang masih tinggi dan kondisi pasokan yang relatif ketat di awal tahun.
Namun, tekanan biaya mulai meningkat, mulai dari tenaga kerja hingga operasional, serta kebijakan seperti kenaikan levy ekspor.
"Jadi, bukan fase ekspansi margin agresif, melainkan normalisasi setelah puncaknya di 2025," ujarnya.
Pemerintah sendiri memastikan kebijakan B50 akan mulai berjalan tahun ini. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan implementasi tersebut akan mendorong peningkatan konsumsi domestik, seiring kapasitas kilang yang juga bertambah melalui proyek RDMP Balikpapan.
Senada, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut mandatori B50 akan berlaku mulai 1 Juli 2026, dengan potensi penghematan subsidi energi hingga Rp48 triliun serta penurunan konsumsi BBM fosil sekitar 4 juta kiloliter.
(fik/ros)































