Beli EV Kala Krisis BBM, Tren Sesaat atau Langkah Tepat?
Merinda Faradianti
03 April 2026 16:40

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pergeseran minat masyarakat menuju Electric Vehicle (EV) dinilai tak hanya sekadar tren teknologi. Di tengah ketidakpastian pasokan energi global dan konflik Timur Tengah, arah konsumsi publik menunjukkan gejala yang lebih dalam, yakni perubahan preferensi berbasis ketakutan akan masa depan energi fosil.
Kekhawatiran atas kelangkaan dan mahalnya energi fosil mulai mendorong konsumen mencari alternatif yang dianggap lebih pasti secara ekonomi. Dalam konteks ini, EV tampil sebagai jawaban, yang didukung oleh penurunan harga teknologi baterai dan efisiensi biaya operasional.
Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu mengatakan pemerintah memang masih menahan harga bahan bakar minyak (BBM) untuk menjaga stabilitas sosial. Namun, sinyal pasar menunjukkan bahwa publik tidak sepenuhnya percaya kondisi ini akan bertahan lama.
Harga kendaraan listrik yang mulai mendekati kendaraan berbasis Internal Combustion Engine (ICE), mengikis stigma sebagai barang premium. Yannes melihat fenomena ini sebagai pergeseran yang lebih struktural.
“Yang terjadi saat ini bukan sekadar tren sesaat. Masyarakat mulai membaca risiko jangka panjang dari ketergantungan pada energi fosil. Ketika biaya operasional EV jauh lebih rendah, maka keputusan beralih menjadi semakin rasional,” katanya pada Bloomberg Technoz, Jumat (3/4/2026).






























