Logo Bloomberg Technoz

Meski demikian, dia mengingatkan bahwa perbandingan biaya saat ini masih terdistorsi oleh kebijakan subsidi energi.

“Perlu disadari, harga BBM hari ini belum mencerminkan harga keekonomian. Jika subsidi dikurangi atau dicabut, maka gap biaya antara EV dan kendaraan konvensional akan semakin lebar,” kata Yannes.

Ia melanjutkan, dorongan utama lain datang dari inovasi baterai, termasuk Sodium-Ion Battery yang digadang-gadang akan memangkas harga kendaraan listrik secara signifikan.

Teknologi ini menjanjikan biaya lebih rendah dengan bahan baku melimpah. Namun, penurunan harga perangkat keras tidak otomatis menyelesaikan persoalan mendasar seperti kesiapan ekosistem.

Tak hanya itu, keterbatasan charging station memunculkan range anxiety yang hingga kini masih menjadi penghambat utama adopsi massal.

“Infrastruktur pengisian daya masih timpang, terutama di luar Jawa. Ini bukan sekadar isu teknis, tapi menyangkut kepercayaan konsumen,” ujar Yannes.

Di balik narasi transisi hijau, terdapat risiko disrupsi ekonomi yang tidak kecil. Peralihan ke EV berpotensi menekan sektor usaha lama, mulai dari bengkel konvensional hingga rantai pasok komponen mesin pembakaran.

Lebih jauh, Indonesia juga menghadapi paradoks baru yaitu mengurangi ketergantungan pada impor BBM, tetapi berisiko meningkatkan ketergantungan pada impor teknologi.

“Komponen inti seperti battery management system, controller, hingga sel baterai masih didominasi impor. Jika ini tidak diantisipasi, kita hanya memindahkan ketergantungan, bukan menghilangkannya,” sebutnya Yannes.

Masalah lain yang kerap luput adalah ketimpangan akses. Menurut Yannes, EV saat ini masih lebih mudah dijangkau oleh kelas menengah atas di perkotaan, sementara masyarakat berpenghasilan rendah dan wilayah rural tertinggal dari sisi harga dan infrastruktur.

Tanpa intervensi kebijakan yang kuat, transisi ini berisiko menciptakan jurang baru dalam akses mobilitas. Di satu sisi, EV dipromosikan sebagai solusi masa depan, namun sisi lain realitas saat ini menunjukkan bahwa adopsinya masih belum sepenuhnya inklusif.

(ain)

No more pages