Harga emas dunia akhirnya turun usai naik empat hari berturut-turut. Selama empat hari tersebut, harga melambung 9,25%.
Jadi, sepertinya aroma ambil untung (profit taking) kuat tercium dari penurunan harga emas. Keuntungan dari menjual emas memang tidak bisa dianggap enteng. Akibatnya, emas mengalami tekanan jual sehingga harganya ambruk.
Selain itu, harga emas juga sepertinya merespons perkembangan terkini di Timur Tengah. Setelah sempat ada harapan perdamaian. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menabuh genderang perang.
Dalam pidatonya, Trump menegaskan bahwa aliansi AS-Israel akan menyerang Iran dengan ‘sangat keras’ selama 2-3 pekan ke depan. Teheran pun belum menunjukkan tanda-tanda untuk memulai negosiasi.
“Pernyataan Trump pada dasarnya adalah mengabarkan kemenangan dalam perang, bukan gencatan senjata. Ada kekhawatiran bahwa AS akan memulai operasi darat di Iran,” kata Christopher Wong, Strategist di Oversea-Chinese Banking Corp, seperti diberitakan Bloomberg News.
Dinamika ini membuat harga minyak membumbung tinggi, Kemarin, harga minyak jenis brent melejit 7,8% ke US$ 109,05/barel. Sementara yang jenis light sweet meroket 11,93%.
Alhasil, ancaman inflasi tinggi masih menghantui perekonomian dunia. Ini akan membuat bank sentral di berbagai negara (termasuk Federal Reserve di AS) akan kesulitan menurunkan suku bunga acuan.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas akan kurang menguntungkan saat suku bunga belum turun.
(aji)




























