Ke depan, OJK berharap dapat memperoleh konfirmasi yang lebih tegas dari MSCI terkait hasil asesmen terhadap berbagai reformasi yang telah dilakukan.
“Kita berharap menerima konfirmasi penerimaan bahwa apa yang disajikan sejauh ini sudah memenuhi tingkat transparansi dan kredibilitas yang diharapkan,” kata dia.
Dalam mendukung peningkatan kualitas pasar, OJK juga menyiapkan mekanisme pemantauan berbasis “triggering event” untuk mengidentifikasi potensi konsentrasi kepemilikan saham. Mekanisme ini akan dilengkapi dengan kebijakan exit policy, sehingga saham yang sebelumnya masuk kategori tertentu tetap memiliki fleksibilitas untuk keluar sesuai kondisi pasar.
Di sisi lain, OJK mendorong peningkatan partisipasi investor, baik ritel maupun institusi domestik dan global, guna memperkuat daya serap pasar, terutama dalam mendukung peningkatan free float emiten.
Terkait hasil akhir evaluasi, OJK menyatakan tetap optimistis terhadap posisi Indonesia dalam klasifikasi MSCI. Menurut Hasan, secara komparatif, tingkat transparansi dan keterbukaan informasi pasar modal Indonesia saat ini dinilai semakin sejalan, bahkan dalam beberapa aspek melampaui praktik di sejumlah pasar regional dan global.
“Dengan data riil dan perbaikan yang dilakukan, ini menjadi kondisi objektif yang tidak bisa diabaikan,” ujarnya.
OJK menambahkan, inisiatif reformasi tersebut tidak bersifat sementara, melainkan akan diimplementasikan secara berkelanjutan dan menjadi bagian dari kerangka regulasi ke depan.
Sebagai tindak lanjut, OJK bersama SRO dijadwalkan kembali melakukan komunikasi lanjutan dengan MSCI dalam waktu dekat, termasuk kemungkinan pertemuan langsung pada pekan ketiga bulan ini untuk membahas perkembangan terbaru serta memperoleh masukan tambahan dari penyedia indeks global tersebut.
(dhf)

























