Logo Bloomberg Technoz

Meskipun masih menghadapi beban pokok pendapatan sebesar Rp7,2 triliun, Waskita berhasil mencatatkan laba bruto sebesar Rp1,58 triliun. Angka ini meningkat sekitar 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain itu, Gross Profit Margin juga mengalami peningkatan menjadi 18 persen pada 2025, dibandingkan 13 persen pada 2024. Peningkatan ini menjadi indikator perbaikan efisiensi operasional perusahaan.

Transformasi Digital dan Strategi Efisiensi

Untuk meningkatkan efisiensi, Waskita mengimplementasikan konsep lean organization serta mempercepat transformasi digital. Langkah ini dilakukan di berbagai lini operasional guna meningkatkan produktivitas.

Pada bidang operasional, perusahaan mengintegrasikan sistem ERP SAP S/4 HANA dengan Building Information Modelling dan Last Planner System. Integrasi ini bertujuan meningkatkan akurasi perencanaan dan efisiensi proyek.

Selain itu, Waskita juga memanfaatkan teknologi berbasis kecerdasan buatan melalui Waskita Intelligent Sensing System. Teknologi ini digunakan untuk mendukung efektivitas pekerjaan di lapangan.

Salah satu implementasinya adalah AI Pavement Crack Detection yang mampu mendeteksi kerusakan jalan secara otomatis. Teknologi ini membantu memastikan kualitas konstruksi tetap terjaga.

“Melalui penggunaan AI tersebut, penghitungan jumlah dan jenis kerusakan secara otomatis bisa dilakukan lebih efisien, sehingga dapat mendukung inspeksi dan pengawasan aset jalan tol. Waktu inspeksi yang dapat diefisiensi mencapai 40 persen lebih cepat,” jelas Ermy.

Transformasi juga dilakukan pada tata kelola teknologi informasi. Perusahaan mengembangkan dashboard manajemen terintegrasi serta memperbaiki sistem keuangan untuk mendukung pengendalian internal.

Langkah-langkah ini bertujuan mencapai operational excellence secara berkelanjutan. Waskita menargetkan setiap proyek dapat diselesaikan dengan kualitas terbaik, tepat waktu, dan biaya yang efisien.

Dari sisi operasional, perusahaan mencatat biaya operasional sebesar Rp1,7 triliun. Sebagian besar merupakan biaya operasional berbasis kas, sementara sisanya merupakan biaya non-kas seperti penyusutan.

Selain meningkatkan efisiensi, Waskita juga fokus pada penurunan liabilitas. Sepanjang 2025, perusahaan berhasil menurunkan liabilitas sebesar Rp2,21 triliun.

Strategi ini dilakukan melalui percepatan divestasi jalan tol dan optimalisasi aset. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk kembali ke core business sebagai kontraktor murni.

Beberapa aksi divestasi telah dilakukan, termasuk pelepasan saham di sejumlah anak usaha. Langkah ini bertujuan memperkuat likuiditas serta memperbaiki struktur keuangan perusahaan.

Di sisi lain, Waskita juga mencatat peningkatan nilai kontrak baru yang mencapai Rp12,52 triliun. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp9,55 triliun.

Kontrak baru tersebut didominasi oleh proyek pemerintah, seperti pembangunan jaringan irigasi, sekolah, dan rumah sakit. Proyek-proyek ini mendukung program prioritas pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Pengerjaan proyek-proyek itu merupakan wujud kontribusi Waskita dalam mensukseskan upaya pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan yang menjadi fokus presiden saat ini. Kami akan terus mendorong sekaligus membantu keberhasilan program pemerintah,” tegasnya.

Hingga akhir 2025, Waskita mengelola 63 proyek dengan total nilai kontrak mencapai Rp31,7 triliun. Hal ini menunjukkan skala operasional perusahaan yang tetap besar di tengah proses transformasi.

Fokus utama perusahaan saat ini adalah menurunkan total utang melalui restrukturisasi. Program restrukturisasi ini telah mendapatkan persetujuan dari mayoritas kreditur perbankan.

Selain itu, restrukturisasi obligasi juga terus berjalan dengan sebagian besar seri telah mendapatkan persetujuan. Langkah ini menjadi bagian penting dalam memperbaiki kondisi keuangan perusahaan.

“Upaya penurunan utang ini sejalan dengan strategi Rencana Penyehatan Keuangan yang sudah disahkan pada Rapat Umum Pemegang Saham. Ke depannya, Waskita berkomitmen untuk kembali ke core business sebagai kontraktor murni, demi menciptakan kegiatan operasional yang lebih sustainable. Inovasi dalam memperkuat tata kelola dan manajemen risiko melalui pembentukan berbagai komite juga dilakukan, baik pada dewan komisaris maupun direksi, diharapkan langkah ini dapat membuat perusahaan lebih adaptif dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan," jelas Ermy.

Dengan berbagai langkah strategis tersebut, Waskita Karya optimistis dapat memperkuat fundamental bisnisnya. Transformasi yang dijalankan diharapkan mampu membawa perusahaan menuju kondisi yang lebih sehat dan berkelanjutan.

(tim)

No more pages