Peringatan Volvo menggarisbawahi risiko yang semakin besar bagi produsen Eropa dan AS karena perang Iran mendorong kenaikan harga bahan bakar dan biaya pengiriman serta membebani sentimen ekonomi yang lebih luas. Meskipun harga bahan bakar yang tinggi dapat mendorong pembeli ke arah kendaraan listrik, krisis energi di masa lalu cenderung membuat konsumen enggan melakukan pembelian barang-barang mahal.
Volvo tidak sendirian dalam apa yang merupakan awal tahun yang sulit bagi produsen mobil di AS. Penjualan mobil penumpang BMW AG di sana turun 17% pada kuartal pertama. Produsen mobil mewah Jerman itu tidak memberikan alasan spesifik atas penurunan tersebut. General Motors Co. dan Honda Motor Co. juga melaporkan penurunan pengiriman di pasar mobil terbesar kedua di dunia.
Volvo berusaha pulih dari akhir tahun 2025 yang sulit. Tarif, diskon besar-besaran, dan penguatan krona Swedia membebani profitabilitas kuartal keempatnya. Produsen yang dimiliki oleh Geely dari Tiongkok ini saat ini sedang bernegosiasi dengan otoritas AS mengenai perlindungan data dan berharap mendapatkan persetujuan untuk melanjutkan penjualan di pasar tersebut dalam beberapa bulan mendatang.
(bbn)




























