Adapun, sepanjang 2025 Gapki mencatat produksi CPO mencapai 51,66 juta ton, tumbuh 7,26% dibandingkan dengan produksi 2024 sebanyak 48,16 juta ton.
Di sisi lain, produksi olahan minyak sawit tercatat sebesar 4,89 juta ton, naik 6,41% dibandingkan dengan 2024 sejumlah 4,59 juta ton.
Eddy menyatakan agar program B50 berjalan secara optimal, seharusnya produksi CPO dapat ditingkatkan ke level 55—60 juta ton.
Kebtuhan CPO
Lebih lanjut, sepanjang 2025, total konsumsi CPO domestik tercatat sebanyak 24,7 juta ton dan ekspor 32,3 juta ton.
Untuk konsumsi domestik, sektor pangan memanfaatkan sekitar 9,8 juta ton, lebih rendah 3,6% dari tahun sebelumnya.
Selanjutnya, industri oleokimia memanfaatkan sekitar 2,2 juta ton CPO, atau tumbuh 1,2% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Sementara itu, untuk biodiesel, tercatat sebanyak 12,7 juta ton, lebih tinggi 11% dari tahun sebelumnya 11,44 juta ton.
Di sisi lain, dari total ekspor 2025 sebesar 32,3 juta ton, 22,72 juta ton di antaranya merupakan ekspor minyak sawit olahan. Lalu, ekspor CPO tercatat sebesar 2,9 juta ton. Sementara itu, ekspor oleokimia dilaporkan 5,07 juta ton.
Sekadar informasi, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengumumkan bahwa pemerintah akan menerapkan B50 pada 1 Juli 2026.
Hal ini merupakan salah satu poin dari 8 butir transformasi budaya kerja nasional, dalam merespons gejolak harga minyak dunia dampak dari perang di Timur Tengah.
"Sebagai bagian dari upaya kemandirian energi dan efisiensi energi, pemerintah menerapkan kebijakan B50. Ini mulai berlaku 1 Juli 2026," kata Airlangga dalam konferensi pers, Selasa (31/3/2026).
Airlangga juga menyebut bahwa Pertamina telah siap untuk mengimplementasikan blending, yang berpotensi mengurangi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) berbasis fosil sebanyak 4 juta kiloliter dan menghemat anggaran subsidi solar hingga Rp48 triliun.
Di sisi lain, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyebut progres tes uji jalan atau road test kendaraan menggunakan biodiesel B50 sudah mencapai 15.000 kilometer (km) per akhir Januari 2026.
Eniya mengungkapkan hasil evaluasi tersebut akan menjadi landasan untuk menentukan waktu implementasi mandatori B50.
“Road test otomotif baru nyampe 15.000, ini kita mau review,” kata Eniya saat ditemui di Kompleks Parlemen, medio Januari 2026.
Dia menyatakan jika nantinya mandatori B50 diimplementasikan, terdapat beberapa penyesuaian skema penetapan alokasi kuota biodiesel.
Misalnya; kuota B40 digunakan seluruhnya tanpa perubahan, kuota untuk sektor non-public service obligation (PSO) dinaikkan, atau kuota non-PSO disesuaikan.
Sebelumnya, Eniya mengumumkan alokasi dana insentif untuk membiayai program B40 pada 2026 ditetapkan senilai Rp47,2 triliun dengan alokasi volume sebanyak 15,64 juta kiloliter (kl).
Angka tersebut terbilang lebih tinggi jika dibandingkan dengan besaran awal alokasi ‘subsidi’ B40 yang ditetapkan pada tahun lalu, yakni Rp35,5 triliun.
Akan tetapi, alokasi dana insentif tahun ini tetap lebih rendah, jika dibandingkan dengan pendanaan B40 yang direalisasikan pada 2025 yakni Rp51 triliun.
(azr/wdh)





























