“Kalau itu sekitar 30 tahun, kami harus bisa menyediakan 180 juta ton sampai 200 juta ton untuk di Mempawah,” kata dia.
Di sisi lain, PTBA menargetkan, keputusan investasi akhir atau final investment decision (FID) untuk proyek itu bisa dipegang akhir tahun ini. “Paling tidak di 2027 sudah ada kepastian untuk memulai proyek ini,” tuturnya.
Sebelumnya, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking proyek smelter Inalum di Mempawah bulan lalu.
Menurut hitung-hitungan Danantara, total investasi untuk pembangunan smelter aluminium itu mencapai US$2,4 miliar atau sekitar Rp40,21 triliun.
Sementara itu, kebutuhan investasi untuk smelter grade alumina refinery (SGAR) Fase 2 di Mempawah mencapai US$890 juta atau sekitar Rp14,9 triliun.
Adapun, rantai pasok pengolahan dan pemurnian bauksit–alumina-aluminium terintegrasi tersebut memiliki kapasitas pengolahan mencapai 3 juta ton bauksit menjadi 1 juta ton alumina per tahun.
Lalu, 1 juta ton alumina tersebut bakal diolah menjadi 600.000 ton aluminium.
Lewat proyek itu, kapasitas produksi alumina domestik bakal meningkat menjadi 2 juta ton per tahun dengan bijih bauksit yang terserap sebesar 6 juta ton per tahun.
Direktur Utama MIND ID Maroef memastikan bauksit yang dipasok ke proyek milik Inalum tersebut berasal dari tambang Antam di Mempawah dan Landak.
“Sehingga kapasitas produksi alumina domestik akan meningkat menjadi 2 juta ton per tahun dengan penyerapan bijih bauksit sebesar 6 juta ton per tahun,” kata Maroef dalam Groundbreaking 6 Proyek Hilirisasi, disaksikan di Wisma Danantara, Jumat (6/2/2026).
(naw)



























