Logo Bloomberg Technoz

Konsumsi BBM

Erika menjelaskan konsumsi BBM pada 12 Maret hingga 31 Maret 2026 tercatat mengalami kenaikan sekitar 15% dari periode normal, besaran itu tercatat lebih tinggi dari proyeksi awal yang mencapai 12%.

Sementara konsumsi Solar, Erika melaporkan penurunan konsumsinya mencapai 18% dibandingkan pada momen normal. Besaran itu tercatat lebih rendah dibandingkan proyeksi awal yang diperkirakan terjadi penurunan konsumsi sebesar 14,5%.

Lebih lanjut, Erika mengakui lebih tingginya konsumsi BBM jenis bensin pada momen Lebaran 2026 turut dipengaruhi fenomena panic buying yang terjadi di sejumlah daerah.

Akan tetapi, dia menegaskan panic buying bensin tersebut hanya terjadi di sejumlah daerah dan diklaim tak begitu memengaruhi konsumsi bensin nasional.

"Ya, jadi memang diproyeksikan waktu itu kan diperkirakan kenaikan sekitar 12% ya tetapi ternyata realisasinya mencapai hampir 15%. Antara lain memang ada tapi nggak banyak ya panic buying itu hanya beberapa saja, beberapa daerah saja, tetapi memang orang yang mudik kali ini luar biasa," kata Erika.

“Kemudian juga jangka waktu liburnya kan panjang ya jadi orang selain mudik juga banyak yang berwisata seperti itu nah itu juga tentunya menambah konsumsi apa BBM seperti itu,” lanjut dia.

Adapun, Erika melaporkan pada periode tersebut konsumsi BBM tertinggi tercatat pada 19 Maret 2026, yakni naik 37% dari periode normal. Sementara pada arus balik, konsumsi BBM tertinggi tercatat pada 25 Maret 2026 dengan kenaikan konsumsi 20% dari penyaluran normal.

Lebih lanjut, untuk bahan bakar pesawat atau avtur dilaporkan terjadi kenaikan konsumsi sebesar 7,2% dibandingkan penyaluran normal. Konsumsi avtur tertinggi dilaporkan terjadi pada 18 Maret 2026 dan 29 Maret 2026, dengan konsumsi masing-masing lebih tinggi 18% dan 22% dari penyaluran normal.

“Secara umum kondisi ketahanan stok BBM dilaporkan aman, baik untuk jenis gasoline, gasoil, kerosene, maupun avtur dengan ketahanan stok berhasil terjaga rata-rata di atas 20 hari,” ujar Erika.

Sekadar infomrasi, Istana Kepresidenan melalui Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengumumkan bahwa PT Pertamina (Persero) tidak bakal menaikkan harga BBM bersubsidi maupun nonsubsidi para April 2026.

Prasetyo menjelaskan langkah tersebut diputuskan usai pemerintah melakukan koordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Pertamina, yang dilakukan berdasarkan arahan Presiden Prabowo Subianto.

“Saya Prasetyo Hadi, Menteri Sekretaris Negara Republik Indonesia. Ingin menyampaikan pernyataan dari pemerintah berkenaan dengan apa yang berkembang di masyarakat tentang adanya isu rencana penyesuaian atau kenaikan harga bahan bakar minyak,” kata Prasetyo dalam keterangan resminya, Selasa (31/3/2026).

“Oleh karena itulah Pertamina menyatakan bahwa Pertamina belum akan melakukan penyesuaian harga baik untuk BBM subsidi maupun BBM nonsubsidi,” tegas Prasetyo.

Adapun, Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman sebelumnya memastikan harga BBM jenis bensin bersubsidi atau Pertalite bakal tetap ditahan pemerintah di level Rp10.000/liter.

Laode memastikan harga BBM bersubsidi tidak bakal mengalami kenaikan pada momen penyesuaian harga BBM bulanan, 1 April 2026.

“Pak Presiden, pemerintah, memang menjaga agar suasana masyarakat tetap kondusif, sehingga kita belum ada memutuskan untuk menaikkan BBM bersubsidi,” kata Laode kepada Bloomberg Technoz, Senin (30/3/2026), malam.

(azr/ros)

No more pages