Logo Bloomberg Technoz

Berikut selengkapnya berdasarkan data Bloomberg, Selasa (31/3/2026)

  1. Barito Renewables Energy (BREN) mengurangi 8,35 poin
  2. Dian Swastatika Sentosa (DSSA) mengurangi 6,57 poin
  3. Astra International (ASII) mengurangi 6,16 poin
  4. Bumi Resources Minerals (BRMS) mengurangi 4,49 poin
  5. Chandra Asri Pacific (TPIA) mengurangi 3,74 poin
  6. GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) mengurangi 1,98 poin
  7. Sinar Mas Multiartha (SMMA) mengurangi 1,8 poin
  8. Adaro Andalan Indonesia (AADI) mengurangi 1,73 poin
  9. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) mengurangi 1,57 poin
  10. Bank Negara Indonesia (BBNI) mengurangi 1,31 poin

Begitu juga dengan saham–saham unggulan LQ45 lainnya yang tercatat dalam tren negatif. Adapun saham PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) terpeleset mencapai 5,45%, disusul oleh saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) ambles 3,89%, dan saham PT Pertamina Gas Negara Tbk (PGAS) drop 2,64%.

Rupiah Tersandung Lagi

Rupiah pada perdagangan siang hari ini tengah berada di zona pelemahan, hingga menyeret IHSG ke zona merah. Sentimen premi risiko investasi di pasar dalam negeri terus melambung, jadi sebab.

Mengacu data Bloomberg, rupiah melemah 0,04% di pasar spot menyentuh Rp16.998/US$. Pada pembukaan perdagangan pagi tadi, rupiah padahal sempat dibuka menguat pada level Rp16.990/US$.

Rupiah pada Perdagangan Spot Siang Hari Ini, Selasa 31 Maret 2026 (Bloomberg)

Kinerja rupiah yang melaju di tren negatif, terjadi ketika dolar AS menguat di level 100,560, usai terapresiasi 0,05% point–to–point.

Jika nilai rupiah terus melanjutkan pelemahan pada perdagangan hari ini, support menarik dicermati pada level Rp17.000/US$ dan selanjutnya Rp17.200/US$ secara potensial menahan rupiah.

Terlebih lagi, level Rp17.000/US$ agaknya menjadi garis batas kepercayaan pasar, setelah level tersebut tertembus, pelaku pasar mulai mempertanyakan kemampuan stabilisasi otoritas moneter. Di sisi lain, pelemahan rupiah yang terus terjadi juga semakin meningkatkan premi risiko Indonesia di mata investor global.

Penguatan dolar AS menunjukkan investor yang sedang memasang mode bermain aman. Aset–aset berisiko pun ditinggalkan, termasuk saham. Lonjakan harga minyak mentah akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah, terutama setelah terganggunya jalur distribusi Selat Hormuz, menjadi penyebab utama pelemahan mata uang di Asia. 

Rasa–rasanya tekanan terhadap rupiah saat ini bukan hanya datang dari gejolak eksternal seperti harga minyak, tetapi juga adanya kerentanan struktural yang belum sepenuhnya teratasi. Ketika harga minyak melonjak, dengan cepat merambat dari neraca eksternal ke ketahanan fiskal, dan pada akhirnya berisiko menghantam daya beli dan konsumsi domestik.

(fad)

No more pages