Di sisi lain, Presiden Donald Trump memberikan pernyataan keras kepada wartawan pada hari Kamis (19/3). "Iran hampir hancur, satu-satunya masalah adalah selat itu: sangat sulit," ujar Trump. "Anda bisa mengirim dua orang dan mereka bisa menjatuhkan bom kecil ke air, lalu mereka menghambat segalanya."
Akibat konflik ini, harga energi melonjak tajam dan memicu kekhawatiran akan lonjakan inflasi. Serangan terhadap fasilitas LNG terbesar di dunia di Qatar semakin memperburuk prospek ekonomi. Harga gas berjangka Eropa melonjak hingga 35% pada hari Kamis, sementara minyak mentah Brent naik ke level US$117 per barel. Pasar obligasi global pun ikut tumbang seiring ekspektasi kenaikan suku bunga akibat tekanan inflasi.
Ibu kota negara-negara Eropa kini tengah bersiap mengombinasikan opsi militer dan asuransi untuk masa transisi setelah konflik. Inggris telah menyiapkan aset militernya dalam beberapa hari terakhir untuk dikirim saat situasi dinilai cukup aman. Mereka juga mengirim perencana militer tambahan ke Komando Pusat AS (CENTCOM) di Florida untuk membantu menyusun strategi setelah perang. Selain itu, Inggris telah berkomunikasi dengan Lloyd's of London—pasar asuransi terbesar di dunia—mengenai produk dan harga asuransi saat pelayaran kembali normal.
Presiden Prancis Emmanuel Macron berulang kali menegaskan bahwa Prancis tidak akan ikut serta dalam operasi pembukaan Selat Hormuz untuk saat ini. Namun, ia menyatakan siap bekerja sama dengan negara lain, termasuk negara non-Eropa, dalam sistem pengawalan saat situasi lebih tenang. Macron bersikeras bahwa upaya ini memerlukan dialog dengan pihak Iran.
Situasi ini menandai keretakan hubungan yang semakin lebar antara AS dan Eropa terkait perang Iran. Trump semakin gencar mengkritik sekutunya dan menyebut keputusan mereka untuk tidak terlibat sebagai "kesalahan bodoh."
Sebagian besar negara Eropa mendesak AS untuk melakukan de-eskalasi konflik. Meskipun Trump bersikeras tidak mengetahui rencana Israel menyerang ladang gas South Pars milik Iran sebelum Teheran membalas ke Qatar, para pejabat mengatakan kepada Bloomberg bahwa sangat besar kemungkinan Israel telah menginformasikan hal tersebut kepada AS. Alih-alih meredam suasana, Trump justru mengancam akan "meledakkan seluruh" ladang gas Iran jika mereka kembali menyerang Qatar.
Menteri Perdagangan Inggris Chris Bryant mengungkapkan bahwa salah satu mitranya di kawasan Teluk mengeluh kepadanya bahwa pihak AS "tidak tahu apa yang mereka lakukan."
"Rasanya seperti tidak ada rencana yang matang, atau jika pun ada, rencana itu berubah setiap hari," ujar Bryant kepada Sky News, Kamis. "Bagi saya, sudah sangat jelas bahwa hal pertama yang akan dilakukan Iran untuk membalas adalah mencoba menutup Selat Hormuz."
(bbn)



























