“Tergantung cara menghitungnya, itu setara dengan pasokan 10 hari hingga dua minggu.”
Kemungkinan pencabutan sanksi ini merupakan pembalikan kebijakan yang mengejutkan setelah bertahun-tahun AS menggunakan sanksi energi untuk menekan Teheran agar bernegosiasi terkait program nuklirnya.
Dalam perubahan sikap lainnya, AS sebelumnya juga sempat melonggarkan sanksi terhadap minyak Rusia secara sementara.
Beragam ide kebijakan — termasuk pelepasan tambahan cadangan darurat AS — menunjukkan bahwa pemerintahan Donald Trump berupaya menggunakan berbagai cara untuk menekan harga minyak dan gas.
Harga acuan telah melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun di seluruh dunia seiring meningkatnya serangan terhadap infrastruktur energi dan tetap tertutupnya jalur vital Selat Hormuz.
Pasokan Iran selama ini sebagian besar mengalir ke China, namun jika sanksi dilonggarkan, minyak tersebut bisa mengalir ke negara lain seperti Malaysia, Singapura, Indonesia, Jepang, dan India.
Asia, yang sangat bergantung pada minyak mentah dari produsen di Teluk Persia, menghadapi risiko terbesar dari gangguan pasokan kawasan tersebut.
Kilang-kilang di kawasan ini sudah mulai mencari pasokan alternatif dari AS dan wilayah lain.
“Kami akan menggunakan barel minyak Iran ini untuk menekan harga selama 10 hingga 14 hari ke depan sambil melanjutkan kampanye ini,” kata Bessent.
Cadangan Darurat
Pada saat AS mengambil tindakan terhadap minyak Iran yang mengapung, akan ada sekitar 260 juta barel “kelebihan energi” yang tersedia, kata Bessent, merujuk pada pelepasan cadangan minyak darurat secara terkoordinasi oleh sejumlah negara.
Trader dan analis memperkirakan krisis saat ini telah mengganggu lebih dari 15 juta barel per hari aliran minyak, dan jika serangan terhadap infrastruktur energi terus meningkat, harga bisa naik lebih jauh. Harga bensin di AS bahkan telah mencapai level tertinggi sejak 2022.
AS juga dapat melakukan pelepasan tambahan dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) secara sepihak untuk menekan harga, kata Bessent.
Namun, penggunaan cadangan tambahan menghadapi tantangan logistik dan fisik.
Cadangan tersebut diperkirakan akan turun ke level terendah sejak 1982 jika pemerintah menyelesaikan pelepasan 172 juta barel — yang akan menjadi yang terbesar kedua dalam sejarahnya.
Secara hukum, pelepasan non-darurat tidak diperbolehkan jika cadangan turun di bawah 252,4 juta barel, dan laporan tahun 1981 dari US Government Accountability Office merekomendasikan agar pelepasan di bawah 250 juta barel hanya dilakukan dalam “keadaan darurat yang sangat parah.”
Cadangan tersebut dibentuk setelah embargo minyak Arab pada awal 1970-an dan terdiri dari jaringan kompleks gua garam bawah tanah, sumur, pipa, dan pompa.
Fasilitas yang mencakup 60 gua garam di bawah tanah di Texas dan Louisiana ini awalnya dirancang hanya untuk umur operasional sekitar 25 tahun.
Menurut William “Hoot” Gibson, mantan manajer proyek cadangan tersebut, sistem ini pada umumnya dirancang untuk sekitar lima kali siklus pengurasan dan pengisian ulang. Makin sering digunakan, makin besar risiko gua-gua tersebut larut dan menyatu satu sama lain.
Tak Intervensi Pasar
Bessent juga menegaskan bahwa meskipun ada spekulasi bahwa Departemen Keuangan AS akan turun tangan di pasar berjangka minyak, “kami sama sekali tidak melakukan itu.”
“Kami tidak akan melakukan intervensi di pasar keuangan. Kami tidak ikut campur di pasar finansial. Kami memasok pasar fisik,” ujarnya.
Dia juga menambahkan bahwa AS tidak menargetkan aset energi Iran dalam perang ini. Terkait Pulau Kharg — pusat ekspor utama Iran — AS melakukan “serangan presisi” terhadap aset militer.
“Yang bisa saya katakan, jika Anda pekerja minyak, Anda tidak ingin bekerja di sana,” kata Bessent. “Kita lihat saja nanti apakah itu pada akhirnya akan menjadi aset AS.”
(bbn)
























