Meski Amerika Serikat berkomitmen mengakhiri konflik dengan cepat, eskalasi kekerasan justru meningkat, termasuk serangan terhadap infrastruktur energi penting, di tengah perhatian tinggi para pembuat kebijakan.
ECB dinilai berada dalam posisi yang lebih kuat dibanding saat invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Namun demikian, sebagian pejabat mulai membuka kemungkinan kenaikan suku bunga, meskipun prospek pertumbuhan ekonomi juga terlihat rentan, memicu kekhawatiran stagflasi.
Proyeksi kuartalan terbaru, yang menggunakan data hingga 11 Maret untuk memasukkan awal konflik, menunjukkan inflasi yang lebih cepat serta pertumbuhan yang lebih lambat.
ECB juga menyatakan bahwa dalam skenario terpisah, gangguan berkepanjangan terhadap pasokan minyak dan gas dapat mendorong inflasi berada di atas proyeksi dasar, sementara pertumbuhan ekonomi berada di bawahnya.
Bank sentral besar lainnya juga mengambil sikap wait and see. Bank of England dan Bank of Japan sama-sama mempertahankan suku bunga acuan pada Kamis, setelah Federal Reserve melakukan hal serupa sehari sebelumnya.
Seberapa besar dampak konflik terhadap Eropa sangat bergantung pada durasinya, yang hingga kini masih menjadi ketidakpastian utama. Uni Eropa memperingatkan inflasi dapat melampaui 3% pada 2026 jika harga minyak Brent bertahan di kisaran US$100 per barel dan harga gas tetap tinggi dalam jangka waktu lama. Beberapa ekonom bahkan memperkirakan inflasi bisa melampaui 4% jika gangguan berlanjut.
Presiden ECB Christine Lagarde dijadwalkan memberikan pernyataan dalam konferensi pers sebelum bertolak ke Brussels untuk menghadiri KTT Uni Eropa yang akan membahas situasi di Timur Tengah.
Meski demikian, Lagarde dan pejabat lainnya menegaskan tidak akan terburu-buru mengambil keputusan. Mereka menyoroti perbedaan kondisi saat ini dibanding empat tahun lalu, ketika lonjakan permintaan pascapandemi dan suku bunga negatif mendorong inflasi.
Bank for International Settlements (BIS) memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan dapat mengguncang pasar keuangan, membebani anggaran pemerintah, serta menggeser ekspektasi inflasi. Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) menyarankan pembuat kebijakan untuk tetap fleksibel di tengah ketidakpastian terkait perkembangan konflik Iran.
(bbn)






























