Logo Bloomberg Technoz

Perang di Iran menempatkan BOJ dalam posisi yang sulit. Lonjakan harga minyak yang sangat cepat berisiko memicu inflasi sebelum dampak kenaikan biaya tersebut merambat ke seluruh sendi ekonomi, yang kemungkinan besar akan menekan aktivitas bisnis dan konsumsi masyarakat. Bank sentral kini memasukkan faktor risiko Timur Tengah ke dalam daftar pantauan mereka tanpa mengubah prospek inflasi, sebuah sinyal bahwa BOJ masih melihat adanya celah untuk menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan.

"Risiko terhadap prospek ekonomi mencakup perkembangan situasi di Timur Tengah di masa depan serta dinamika harga minyak mentah," tulis BOJ dalam pernyataannya.

Pernyataan tersebut juga menambahkan bahwa Takata, sang pemilih kontra, berpendapat bahwa "risiko harga di Jepang cenderung bergerak naik akibat efek putaran kedua dari kenaikan harga yang berasal dari perkembangan di luar negeri."

Meski demikian, BOJ menegaskan kembali pandangannya bahwa tren harga akan tetap sejalan dengan target mereka pada paruh kedua periode proyeksi saat ini. Dewan Gubernur masih berniat untuk menaikkan suku bunga acuan jika proyeksi harga tersebut benar-benar terwujud.

Jepang merupakan salah satu negara ekonomi maju yang paling rentan terhadap dampak ketegangan di Timur Tengah, mengingat lebih dari 90% impor minyaknya berasal dari kawasan tersebut. Berdasarkan laporan pemerintah pada Rabu kemarin, harga bensin melonjak hingga 190,8 yen per liter minggu ini, menjadikannya harga termahal dalam catatan data sejak tahun 1990.

Gubernur BOJ Kazuo Ueda dijadwalkan menggelar konferensi pers pada pukul 15.30 waktu Tokyo untuk menjelaskan lebih rinci mengenai keputusan ini serta memaparkan pandangannya terkait arah suku bunga ke depan. Para pelaku pasar mata uang kini dalam posisi waspada, mengingat penjelasan Ueda yang sangat berhati-hati dalam mempertahankan kebijakan sebelumnya terkadang justru memberikan tekanan yang membuat yen semakin melemah.

(bbn)

No more pages