Logo Bloomberg Technoz

Di sisi lain, Trump kembali meluapkan kekesalannya terhadap negara-negara sekutu yang enggan membantu mengamankan Selat Hormuz, jalur energi krusial yang saat ini hampir tidak bisa dilalui. "Sekutu AS harus sadar—segera bertindak dan bantu buka kembali Selat Hormuz," tulisnya di media sosial, Rabu (18/3).

Presiden Iran Masoud Pezeshkian membalas dengan menegaskan bahwa serangan terhadap infrastruktur negaranya tidak akan menghasilkan apa pun bagi AS dan Israel. "Ini hanya akan memperumit situasi dan memicu konsekuensi tak terkendali yang dampaknya bisa melanda seluruh dunia," tegasnya.

Israel mengonfirmasi serangan terhadap ladang gas South Pars milik Iran. Meskipun AS mengetahui operasi sensitif tersebut, seorang sumber menyatakan Washington tidak terlibat langsung dalam serangan itu. Dampaknya langsung terasa hingga ke negara tetangga. Irak melaporkan pemutusan aliran listrik massal setelah Iran menghentikan pasokan gas akibat kerusakan tersebut.

Anwar Gargash, penasihat senior Presiden Uni Emirat Arab Sheikh Mohamed bin Zayed, mengindikasikan bahwa UEA mungkin bersedia membantu mengamankan Selat Hormuz.

Harga minyak bergerak volatil pada Rabu, dengan Brent hampir menyentuh US$110 per barel selama sesi perdagangan. Minyak mentah AS sempat mendekati US$100 sebelum ditutup di sekitar US$96 per barel. Pasokan dari cadangan darurat AS diperkirakan segera masuk pasar, membantu menahan kenaikan harga minyak domestik dibandingkan acuan internasional Brent.

Meskipun pasokan dari cadangan darurat AS diperkirakan akan segera masuk ke pasar untuk meredam harga domestik, kedua kontrak minyak utama dunia telah melonjak lebih dari 40% sejak perang dimulai pada 28 Februari. Di tingkat ritel, harga bensin dan diesel di AS telah menyentuh level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Negara-negara terus berebut akses dan kendali atas Selat Hormuz. AS dilaporkan menjatuhkan amunisi penghancur bunker seberat 5.000 pon ke lokasi rudal Iran di sekitar jalur tersebut pada Selasa malam.

Rusia menyatakan berencana menyediakan konvoi angkatan laut untuk melindungi kapal dagang.

Sementara itu, Iran tetap mengirimkan minyaknya melalui selat tersebut pada level yang mendekati sebelum perang. Aktivitas pemuatan minyak di Pulau Kharg juga tampak tetap berjalan meski ada serangan AS terhadap pusat ekspor tersebut.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kepada Al Jazeera bahwa “kita perlu merancang pengaturan baru untuk Selat Hormuz dan cara kapal melintasinya di masa depan.”

Iran mengatakan kebakaran di fasilitas gas South Pars telah berhasil dipadamkan. (Sumber: Bloomberg)

Serangan terhadap Ras Laffan dan South Pars kembali menyoroti kerentanan infrastruktur energi di Timur Tengah selama perang, meskipun Trump sebelumnya mengindikasikan keengganan AS untuk menyerang langsung fasilitas energi yang dapat mengganggu pasokan global.

Awal pekan ini, Iran membakar ladang gas besar di Uni Emirat Arab sebagai bagian dari eskalasi balasan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed Al Ansari menyebut serangan Israel terhadap South Pars sebagai “langkah berbahaya dan tidak bertanggung jawab.” Qatar sendiri berbagi kepemilikan ladang tersebut dengan Iran.

Serangan ke South Pars menunjukkan pergeseran strategi perang yang kini menargetkan infrastruktur ekonomi Iran guna melemahkan kemampuannya melanjutkan konflik, menurut Hamidreza Azizi dari German Institute for International and Security Affairs di Berlin.

“South Pars sangat penting bagi pasokan gas Iran dan, pada akhirnya, bagi pembangkit listrik serta aktivitas industri,” ujar Azizi melalui email. “Gangguan sekecil apa pun dapat menyebabkan kekurangan listrik, perlambatan industri, dan tekanan ekonomi yang lebih luas.”

Tanda-tanda eskalasi di berbagai front juga terlihat pada Rabu. Iran meluncurkan gelombang baru rudal dan drone ke Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Kuwait setelah mengonfirmasi tewasnya kepala keamanannya, Ali Larijani. Iran juga menyerang Tel Aviv dan menewaskan dua orang. Israel dan AS tetap melanjutkan serangan ke Iran.

Militer Iran bersumpah membalas kematian Larijani serta Gholamreza Soleimani, kepala unit paramiliter Basij. Menteri Intelijen Iran Esmaeil Khatib juga dilaporkan tewas.

Secara paralel, Israel meningkatkan ofensif di Lebanon dalam pertempuran melawan kelompok Hizbullah yang didukung Teheran. Serangan Israel di negara tersebut telah menewaskan lebih dari 900 orang, menurut pemerintah Lebanon.

Total korban tewas dalam perang kini melampaui 4.000 orang, dengan lebih dari tiga perempatnya berada di Iran. Puluhan lainnya tewas di berbagai wilayah Timur Tengah, sementara AS kehilangan 13 personel militer.

Trump kembali menegaskan pada Selasa bahwa perang dimulai untuk melucuti ancaman nuklir Iran, dengan klaim bahwa Teheran hanya tinggal dua minggu lagi untuk memiliki senjata tersebut. Iran membantah tuduhan itu, dan banyak pakar nuklir menilai hal tersebut tidak realistis.

Iran “dianggap oleh semua pihak sebagai SPONSOR TERORISME NOMOR SATU,” tulis Trump di Truth Social pada Rabu. “Kami sedang dengan cepat melumpuhkan mereka!”

Harga bensin di AS melonjak dalam beberapa pekan terakhir, mencapai sekitar US$3,84 per galon pada Rabu, menurut American Automobile Association. Level ini merupakan yang tertinggi dalam lebih dari dua tahun dan meningkatkan tekanan terhadap pemerintah menjelang pemilu paruh waktu November.

“Harga bensin naik dan kami tahu itu, dan kami tahu masyarakat terdampak, dan kami melakukan segala yang kami bisa untuk menahannya tetap rendah,” ujar Vance, menyebut lonjakan tersebut sebagai “kenaikan sementara.”

Sebagai tanda meningkatnya penolakan domestik terhadap perang, Joe Kent, pejabat tinggi kontraterorisme, mengundurkan diri sebagai bentuk protes, dengan alasan Israel telah menyeret AS ke dalam konflik.

Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard pada Rabu mencabut pernyataan dalam kesaksian di Kongres yang menyebut Iran belum melanjutkan pengayaan uranium sejak fasilitasnya dihancurkan oleh serangan AS tahun lalu. Kesimpulan itu dinilai dapat melemahkan klaim bahwa Iran merupakan ancaman yang mendesak.

Gabbard, yang ditunjuk Trump untuk memimpin 18 badan intelijen AS, beberapa kali menolak menjawab apakah ia menilai Iran sebagai “ancaman nuklir yang segera,” seperti yang diklaim Gedung Putih.

Jenderal Angkatan Darat AS (purn) David Petraeus memperingatkan bahwa Iran memiliki “rezim yang sangat tangguh” dengan sekitar satu juta personel bersenjata, yang membuat akhir konflik sulit diprediksi.

“Konflik ini jelas tidak akan berakhir dalam satu atau dua minggu, karena kita sendiri tidak yakin itu bisa terjadi secepat itu,” ujarnya dalam forum Economic Club of New York pada Rabu.

(bbn)

No more pages