Logo Bloomberg Technoz

Di sisi lain, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menegaskan langkah pembelian besar-besaran China tidak hanya menambah risiko terhadap harga, tetapi juga memberikan kecemasan bagi negara-negara impor lain.

Impor China meningkat pada paruh kedua tahun 2025. (Bloomberg)

Dia mencatat impor minyak mentah China pada Januari—Februari 2026 telah naik 15,8% menjadi 11,99 juta barel per hari jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Selain itu, Josua mencatat persediaan China diperkirakan saat ini bertambah sekitar 12 juta barel hanya dalam dua bulan pertama tahun ini.

Negara tersebut padahal memiliki sekitar 900 juta barel cadangan strategis setara kurang lebih 78 hari impor, serta masih ditopang minyak murah dari Iran dan Rusia.

“Dari sudut pandang China, ini rasional sebagai pengamanan energi. Namun, bagi pasar global, makin banyak barel yang masuk ke tangki China, berarti makin sedikit kargo yang tersedia untuk pembeli lain pada saat gangguan pasok sedang tinggi,” kata Josua ketika dihubungi, Senin (16/3/2026).

Dia khawatir kondisi tersebut mendorong negara lain untuk melakukan pembelian minyak mentah secara lebih cepat untuk mengamankan stok domestik, sehingga rasa takut kekurangan pasokan menyebar lebih cepat daripada kekurangan stok yang sesungguhnya.

“Jadi risikonya memang nyata yakni bukan hanya harga naik, tetapi juga muncul lingkaran kepanikan, rebutan pasokan, ongkos kirim yang melonjak, dan tekanan inflasi yang makin luas,” tegas Josua.

China membeli lebih banyak minyak mentah dalam dua bulan pertama tahun ini karena negara tersebut terus menimbun minyak untuk mengantisipasi gangguan pasokan.

Pembeli terbesar di dunia ini mengimpor 96,93 juta ton, meningkat 16% dari Januari—Februari 2025, menurut data bea cukai China pada Selasa (10/3/2026).

Surplus tersebut digunakan untuk mengisi cadangan komersial dan strategis yang mungkin perlu digunakan jika perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran berlanjut dalam jangka waktu tertentu.

Di sisi lain, kilang minyak China dikabarkan telah mulai membatalkan kargo ekspor bahan bakar olahan yang telah disepakati, termasuk bensin dan solar, seiring dengan pengetatan pembatasan lebih lanjut oleh Beijing untuk mengatasi dampak perang di Timur Tengah.

Hal itu diungkapkan oleh sumber Bloomberg yang mengetahui masalah ini.

Para pengolah minyak terbesar di negara itu diberitahu pekan lalu untuk berhenti menandatangani kontrak ekspor baru dan untuk menegosiasikan pembatalan kargo yang telah disepakati.

Arahan terbaru ini merupakan peningkatan dari panduan sebelumnya, yang dipahami sebagai tidak wajib, dan mengizinkan beberapa pengiriman yang dijadwalkan pada Maret untuk dilanjutkan.

Industri kilang minyak China yang luas sebagian besar melayani pasar domestiknya, tetapi negara ini juga merupakan pengekspor bahan bakar yang signifikan ke Asia dan sekitarnya.

Langkah terbaru ini muncul di tengah meluasnya konflik di Teluk Persia yang mengacaukan pasar minyak dan gas serta meningkatkan kekhawatiran akan keamanan energi bagi perekonomian terbesar kedua di dunia.

Adapun, harga minyak memperpanjang kenaikan dari penutupan tertinggi sejak Agustus 2022 dalam salah satu pekan perdagangan paling volatil yang pernah terjadi.

Minyak Brent untuk pengiriman Mei naik 0,8% menjadi US$103,98/barel pada pukul 9:55 pagi ini di Singapura. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April turun 0,3% menjadi US$98,46/barel.

(azr/wdh)

No more pages