Logo Bloomberg Technoz

Bahkan untuk mencapai target FEED tersebut, Bahlil menawarkan kepada Inpex agar produksi Blok Masela dibeli oleh Danantara jika perusahaan Jepang tersebut tak kunjung mendapatkan pembeli hingga April 2026.

"Supaya ada kepastian buyer. Saya menghargai buyer luar negeri, tetapi pada saatnya sekarang negara Indonesia harus hadir, untuk bersama-sama dengan Inpex dalam rangka memastikan operasi. Jadi kami saja yang membeli," ujar Bahlil melalui keterangan tertulis, dikutip Senin (16/3/2026).

Pertemuan Bahlil dengan CEO INPEX Corporation Takayuki Ueda di Tokyo, Jepang, Minggu (15/3/2026)./dok. ESDM

"Karena kami berkeinginan ini bisa cepat supaya jangan ulur-ulur lagi. Ini 27 tahun, masak kita mau tunggu sampai usia saya 60 tahun baru jadi kan. Apalagi itu kampung ibu saya. Jadi saya pikir bisa tahun ini kita semua tender EPC," tegas dia. 

 Menanggapi Menteri ESDM, CEO Inpex Corporation Takayuki Ueda juga menyampaikan komitmennya untuk segera menyelesaikan Proyek Abadi Masela.

"Karena ini bukan hanya isu buat saya pribadi, tetapi kami segera jajaran Inpex memiliki komitmen juga untuk mempercepat realisasi Abadi ini, termasuk ini saya sudah 12 tahun mengerjakan Abadi. Bukan hanya Pak Menteri, tetapi juga kami memiliki komitmen yang sama untuk segera mengerjakan Abadi. Dan setelah berdiskusi dengan Pak Menteri, kami makin semangat lagi untuk mempercepat penyelesaian proyek Abadi ini," ujar Ueda.

Di sisi lain, Bahlil mengklaim pembangunan proyek telah mencapai sekitar 25%. Dari sisi administratif, persetujuan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) telah terbit pada 13 Februari 2026, kemudian persetujuan pelepasan hutan dari Kementerian Kehutanan terbit pada Januari 2026.

Calon Pembeli

Sekadar informasi, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) melaporkan perkembangan terbaru dalam negosiasi penjualan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) dari proyek Lapangan Gas Abadi di Blok Masela dengan calon pembeli internasional.

Proses negosiasi kini telah mengerucut pada lima perusahaan energi global, yang terdiri dari dari Osaka Gas Jepang, Kyushu Elektrik Jepang, Shell Trading, BP Trading, dan Chevron Trading.

Pertemuan Bahlil dengan CEO INPEX Corporation Takayuki Ueda di Tokyo, Jepang, Minggu (15/3/2026)./dok. ESDM

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan penjajakan pembelian LNG tersebut sebelumnya melibatkan 66 calon pembeli.

Jumlah itu kemudian menyusut menjadi 40, lalu sembilan perusahaan, hingga akhirnya tersisa lima calon pembeli yang tengah membahas ketentuan utama kontrak bersama konsorsium pengembang proyek.

“Negosiasi lanjutan penjualan LNG Masela dari 66 calon buyer mengerucut menjadi 40, kemudian sembilan buyer, dan terakhir tinggal lima buyer yang membahas key term dengan tim teknis,” ujar Djoko melalui pernyataan tertulis, Minggu (15/3/2026).

Menurut Djoko, dalam tahap negosiasi terakhir yang berlangsung di Singapura dan Tokyo, pihak penjual dan pembeli telah menyampaikan proposal harga final masing-masing. Selisih penawaran harga di antara kedua pihak saat ini makin kecil.

“Perbedaan harga yang diajukan tinggal sekitar ±0,2% dari harga minyak Brent,” kata dia.

Adapun, penawaran harga dari para calon pembeli berada di kisaran rata-rata sekitar 12% dari harga minyak Brent.

Sementara itu, konsorsium penjual LNG yang terdiri dari operator proyek Inpex, bersama Pertamina dan Petronas, menawarkan harga di atas asumsi harga yang digunakan dalam dokumen pengembangan proyek.

Dalam dokumen rencana pengembangan atau plan of development (PoD) proyek Masela, sekitar 60% produksi LNG direncanakan untuk pasar ekspor dan 40% untuk kebutuhan domestik.

SKK Migas menargetkan keputusan kesepakatan harga dapat dicapai paling lambat bulan depan.

Selanjutnya, perjanjian awal atau head of agreement (HOA) maupun perjanjian jual-beli gas (PJBG) yang bersifat mengikat ditargetkan dapat ditandatangani pada forum industri migas IPA Convention and Exhibition pada Mei 2026.

Djoko menambahkan setelah penandatanganan kontrak penjualan LNG, tahap berikutnya adalah negosiasi dengan lembaga keuangan untuk pembiayaan proyek Abadi LNG di Masela.

Pemerintah menargetkan keputusan FID proyek tersebut dapat dicapai pada Desember 2026.

Proyek Abadi Masela ditaksir sanggup memproduksi 9,5 juta ton gas alam cair atau LNG per tahun, setara dengan lebih dari 10% impor LNG tahunan Jepang.

Selain itu, proyek ini juga diestimasikan mengakomodasi gas pipa 150 MMSCFD, serta 35.000 barel kondensat per hari (BCPD).

Pemegang hak partisipasi atau participating interest (PI) di Blok Masela adalah Inpex Masela Ltd. dengan porsi 65%. Kemudian Pertamina Hulu Energi (PHE) Masela menggenggam 20% PI dan Petrolian Nasional (Petronas) Masela Berhad sebesar 15%.

(azr/wdh)

No more pages