Logo Bloomberg Technoz

Menurut hitungannya, kenaikan harga minyak dunia akan membuat rasio defisit APBN terhadap PDB melewati batas 3%, sesuai yang berlaku dalam Undang-undang Keuangan Negara.

"Dengan berbagai skenario ini, defisit 3% sulit dipertahankan, kecuali mau memotong belanja dan pertumbuhan. Ini berbagai skenario yang perlu kita rapatkan secara terbatas," ujar Airlangga di hadapan Prabowo.

Skenario pertama adalah jika perang terjadi selama 5 bulan ke depan, kenaikan harga patokan minyak mentah Indonesia atau ICP bisa melonjak ke level US$86/barel dari asumsi saat ini yang dipatok US$70/barel.

Lalu, nilai tukar rupiah juga bisa melonjak menjadi Rp17.000/US$ dari level saat ini, Rp16.500/US$. Pertumbuhan ekonomi melambat ke level 5,3% dari target awal 5,4%. Yield SBN 6,9% dengan asumsi defisit APBN 3,18%.

Jika perang terjadi selama 6 bulan, kenaikan harga patokan minyak mentah Indonesia atau ICP bisa melonjak ke level US$97/barel; kurs mencapai Rp17.300/US$; pertumbuhan ekonomi melambat ke 5,23%; yield SBN 7,2% dan asumsi defisit mencapai 3,53%.

Lalu, jika perang terjadi selama 10 bulan, maka kenaikan harga patokan minyak mentah Indonesia atau ICP bisa melonjak ke level US$115/barel; kurs mencapai Rp17.500/US$; pertumbuhan ekonomi melambat ke 5,2%; yield SBN 7,2% dan asumsi defisit mencapai 4,06%.

Siapkan Perppu

Dengan adanya ketiga skenario tersebut, pemerintah mengaku sedang menyiapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) guna mengubah batas defisit APBN melewati level 3% terhadap PDB. Hal ini sama seperti yang dilakukan ketika ada kondisi darurat pandemi Covid-19.

"Kita pernah melakukan Perppu, ada beberapa faktor yang perlu mungkin masuk di dalam perppu yang sedang kita persiapkan. Soal timing itu tentu keputusan politik pak presiden, tapi keputusan Perppu saat Covid-19 pernah kami siapkan," ujar Airlangga.

BBM Masih Aman

Dalam rapat tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia juga turut melaporkan kondisi bahan bakar minyak (BBM), sebagai salah satu komoditas yang paling terdampak dalam konflik.

Dia mengaku stok BBM dalam negeri per 13 Maret 2026 atau menjelang hari raya Idulfitri 2026 berada di atas standar minimum nasional yang ditetapkan sebesar 21–23 hari.

Rinciannya, BBM jenis Pertalite (RON 90) memiliki ketahanan stok nasional atau coverage days (CD) sebesar 24,39 hari, berada di atas batas minimum 18,2 hari.

Untuk Pertamax (RON 92), Bahlil mengungkap ketahanan stok nasional tercatat 28,75 hari atau lebih tinggi dari batas minimum 19,9 hari. Sementar, Pertamax Turbo (RON 98) dilaporkan memiliki ketahanan stok 31,32 hari, melampaui batas minimum 22,3 hari.

Lebih lanjut, pada BBM jenis Solar (CN 48) ketahanan stok nasional tercatat 16,41 hari, sedikit di atas batas minimum 16,3 hari. Sedangkan Pertamina Dex (CN 53) Bahlil menyatakan memiliki ketahanan stok mencapai 46,05 hari, jauh di atas batas minimum 24,9 hari.

Untuk bahan bakar penerbangan avtur, ketahanan stok nasional tercatat 38,15 hari atau melampaui batas minimum 26 hari.

Sementara itu, untuk gas minyak cair atau liquified petroleum gas (LPG), ketahanan stok nasional mencapai 15,66 hari di atas batas minimum 11,4 hari. Kemudian, minyak tanah atau kerosin memiliki ketahanan stok nasional sebesar 23,15 hari.

“Cadangan menjelang hari raya untuk semua BBM dan LPG insyaallah aman Bapak,” ungkap Bahlil.

Cadangan Pangan

Dari sisi pangan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman juga turut melaporkan. Amran menyebut kondisi cadangan pangan, khususnya beras di dalam negeri sangat aman.

Dia mengatakan, pemerintah saat ini memiliki cadangan beras hingga 4 juta ton, dan akan bertambah menjadi sekitar 5 juta ton pada April 2026 mendatang.

"Kami laporkan khusus beras hari ini mencapai 4 juta ton, data dua hari yang lalu. kemungkinan bulan depan capai 5 juta, ini tertinggi cadangan kita, cukup untuk 324 hari atau akhir tahun," ujar Amran.

Selain stok beras, Arman juga turut melaporkan realisasi ekspor minyak kelapa sawit tau crude palm oil (CPO) yang telah menembus sebanyak 6 juta ton.

Di sisi lain, Amran mengatakan nilai tukar petani NTP per Februari 2026 juga tercatat mencapai level 125,45 atau menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah. Itu artinya peningkatan harga yang diterima petani melebihi biaya produksi.

Analisis DEN

Dalam kesempatan itu, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan turut memaparkan hasil pengamatan dan analisisnya terhadap perang di kawasan Timur Tengah tersebut.

Dalam pengamatan hasil informasi internalnya, Luhut mengatakan AS dan Israel memiliki tiga target dalam serangan ke Iran; melumpuhkan pertahanan udara Iran; melumpuhkan kapasitas Iran untuk membalas; dan melumpuhkan sistem komando Iran.

"Saya ingin menambahkan pada peserta rapat, bahwa bangsa Iran ini sebenarnya bangsa Arya, jadi tidak mudah juga ditaklukan," ujar Luhut.

Luhut juga memaparkan bahwa selama konflik yang berlangsung dua pekan tersebut, jumlah rudal yang ditembakkan Iran ke lawannya telah menurun tajam. Itu disebabkan tak lain oleh operasi AS-Iran yang menghancurkan hulu peluncuran rudal milik Iran.

Meski demikian, menurut Luhut, perang belum akan berakhir dengan cepat. Hal itu karena Iran baru saja membuktikan keampuhan senjata barunya yaitu drone bawah air yang menyerang Kapal Tanker Amerika Serikat dan Yunani.

Drone tersebut juga diklaim sangat efektif karena biaya pembuatan rendah, kemampuan mencapai 2.000 km, serta memiliki teknologi yang mampu mengincar tepat sasaran, sekaligus menimbulkan ketakutan baru bagi Negeri Paman Sam.

"Ini dikhawatirkan Amerika sekarang, karena mereka mendapat informasi bahwa ada kapal-kapal yang membawa drone ini mendekat ke Amerika," ujar Luhut.

Meski begitu, kata Luhut, AS tidak tinggal diam. Mereka disebut tengah bersiap untuk mempercepat perang dengan meningkat dampak dan kerusakan pada Iran. 

Militer AS kabarnya akan mulai mengganti rudal yang digunakan dari B-2 menjadi B-52, sebuah rudal dengan kemampuan dan daya hancur yang lebih besar.

"Mereka [AS] sedang menyiapkan serangan-serangan lebih efektif, targeted dengan menggunakan B-52 setelah mereka menggunakan B-2. Jadi saya pikir situasinya masih fluktuatif," ujar Luhut. 

"Rekomendasi kami [DEN] dengan kondisi semua ini, tidak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan. Tapi kita tetap awas. Kita terus memantau perkembangan di luar."

(ibn/del)

No more pages