Di sisi lain, minyak Rusia tak hanya diganjar sanksi oleh AS. Uni Eropa juga menjatuhkan pembatasan terhadap sektor energi Rusia setelah invasi ke Ukraina pada 2022, termasuk embargo impor minyak.
AS telah mengeluarkan izin kedua bagi pembeli untuk mengambil kargo minyak Rusia yang sudah berada di laut. Langkah ini dimaksudkan untuk meredakan tekanan yang semakin meningkat pada harga seiring berlanjutnya perang di Timur Tengah.
Menteri Keuangan Scott Bessent, dalam unggahan di media sosial, mengatakan langkah ini dirancang sebagai "langkah jangka pendek dan sangat terbatas" yang "hanya berlaku untuk minyak yang sudah dalam perjalanan dan tidak akan memberikan manfaat finansial yang signifikan bagi pemerintah Rusia."
Langkah, yang hanya berlaku untuk minyak yang dimuat sebelum 12 Maret, ini memperluas pembebasan selama sebulan yang diberikan pada India pekan lalu. Hal ini semula berlaku untuk minyak mentah yang dimuat di kapal sebelum 5 Maret. Ketentuan yang lebih luas ini tidak lagi terbatas pada India, tetapi tidak mengizinkan Iran untuk membeli minyak tersebut.
Pemerintah AS telah berusaha mengambil langkah-langkah untuk menstabilkan harga minyak mentah dan bahan bakar yang melonjak. Di antara pilihan lain, mereka mempertimbangkan rencana untuk mengabaikan undang-undang maritim berusia seabad yang mewajibkan kapal-kapal AS digunakan untuk mengangkut barang antarpelabuhan AS.
Upaya tersebut belum memberikan dampak signifikan pada harga, di mana harga minyak mentah Brent mendekati US$100 per barel pada perdagangan awal Asia pada Jumat (13/3/2026).
Bessent sebelumnya menyatankan AS mampu "mencabut sanksi" tambahan terhadap minyak Rusia untuk meredakan tekanan harga di pasar minyak.
Sekadar catatan, saat ini status cadangan BBM nasional tercatat tahan selama 23 hari, masih di bawah standar Badan Energi Nasional atau International Energy Agency (IEA) yakni 90 hari cadangan minyak mentah atau produk BBM.
Di tengah potensi pengetatan pasokan dan melonjaknya harga komoditas migas, pemerintah akhirnya berencana membangun fasilitas penyimpanan atau storage minyak mentah untuk menambah umur cadangan operasional nasional.
Adapun, berdasarkan data Dewan Energi Nasional (DEN) dan BPH Migas, komposisi impor minyak mentah Indonesia pada 2025 berasal dari berbagai negara mitra sehingga sumbernya terdiversifikasi.
Antara lain Nigeria sebesar 34,07 juta barel atau sekitar 25%, Angola sebesar 28,5 juta barel atau 21%, Arab Saudi sebesar 25,36 juta barel atau sekitar 19%, Brasil 9%, Australia 8%, serta sejumlah negara lainnya seperti Gabon, Amerika Serikat (AS), dan Malaysia.
Untuk impor BBM, berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pada 2025 Indonesia tercatat mengimpor BBM paling banyak dari Singapura dan Malaysia.
Terdapat negara lainnya yang turut menjadi sumber impor BBM RI, antara lain China, Korea Selatan, Oman, Uni Emirat Arab (UEA), India, Mesir, Jepang, dan Taiwan.
(azr/ros)




























