Logo Bloomberg Technoz

Total kepemilikan Vanguard di INCO keseluruhan mencapai sekitar 74,11 juta lembar saham per awal Maret 2026, dengan valuasi mencapai Rp446,55 miliar.

Kepemilikan saham Vanguard itu susut tajam dari posisi akhir 2025 lalu sebesar 85,54 juta lembar saham. Adapun, rata-rata harga beli Vanguard berada di kisaran Rp4.061 per saham.

Dengan demikian, Vanguard masih berada pada posisi floating profit kendati saham INCO belakangan anjlok 19,01% ke level Rp5.750 per saham selama satu bulan terakhir.

Manuver Vanguard mengurangi porsi saham INCO itu bertentangan dengan sikap investor institusi besar lainnya seperti Blackrock Inc dan WisdwomTree Inc.

Blackrock, perusahaan investasi besutan Larry Fink, menambah muatan sekitar 31,42 juta lembar saham INCO pada kuartal I-2026, dengan harga rata-rata pembelian Rp6.467 per saham.

Lewat pembelian itu, kepemilikan Blackrock di INCO naik 154% menjadi sekitar 51,81 juta saham, dari posisi pada akhir 2025 sebanyak 20,38 juta saham.

Valuasi kepemilikan saham Blackrock di INCO saat ini mencapai Rp303,1 miliar, dengan harga rata-rata perolehan Rp5.538 per saham.

Mengikuti arus BlackRock, pemodal kakap lainnya WisdomTree Inc ikut menambah muatan sebanyak 11,91 juta saham sepanjang Januari-Maret 2026.

Kepemilikan WisdomTree saat ini mencapai 25,06 juta saham di INCO, lompat dari posisi akhir 2025 lalu sebesar 13,14 juta saham.

Arah Kinerja

Sebagian besar analis memperkirakan INCO bakal membukukan laba bersih yang moderat untuk tahun buku 2025, mengingat reli harga nikel baru tercermin pada kinerja kuartal I-2026.

Menurut konsensus yang dihimpun Bloomberg, estimasi median laba bersih yang bisa dihimpun INCO untuk tahun buku 2025 mencapai US$76,65 juta, lebih tinggi 32,6% dari realisasi laba tahun buku 2024 sebesar US$57,76 juta.

Malahan, Maybank Sekuritas mengerek laba bersih INCO pada tahun buku 2025 mencapai US$90 juta, dengan proyeksi pertumbuhan 175% pada tahun buku 2026 secara tahunan.

“Revisi ini didorong oleh lonjakan volume penjualan bijih nikel pada kuartal IV-2025 serta peningkatan panduan produksi tahun 2026,” tulis Maybank Sekuritas dalam riset yang disusun Hasan Barakwan dan Jeffrosenberg Chenlim, dikutip Jumat (13/3/2026).

Truk berjalan di sepanjang lintasan tambang nikel yang dioperasikan oleh PT Vale Indonesia di Sorowako, Sulawesi Selatan./Bloomberg-Dimas Ardian

INCO mulai mencatat pendapatan dari penjualan bijih nikel di Bahodopi pada kuartal III-2025, dengan total penjualan bijih mencapai 748.772 ton—termasuk 617 ribu ton dari Bahodopi dan 131 ribu ton dari Pomalaa—menandai peningkatan lebih dari sepuluh kali lipat secara kuartalan.

Hal ini mendorong total penjualan bijih sampai periode September 2025 menjadi 896.263 ton.

“Memasuki kuartal IV-2025, kami memperkirakan laba akan lebih kuat dibandingkan kuartal III, didorong oleh penjualan sisa sekitar 1,8 juta ton dari kuota 2,5 juta ton Bahodopi, dengan harga jual kontrak sekitar US$55 per ton,” tulis tim analis Maybank Sekuritas.

Sementara itu, J.P. Morgan menyematkan pandangan overweight untuk INCO pada tahun 2026. 

Alasannya, J.P. Morgan mengatakan, INCO telah memperoleh izin penjualan bijih sebesar 8 juta ton sampai 9 juta ton pada tahun ini.

“Kami juga memperkirakan profitabilitas bisnis nikel matte akan meningkat signifikan pada kuartal pertama seiring membaiknya harga nikel di London Metal Exchange,” tulis J.P. Morgan lewat riset yang disusun Benny Kurniawan, Anuja Mandvekar, Yen Voo dan Arnanto Januari dikutip Jumat (13/3/2026).

Di sisi lain, J.P. Morgan meyakini, INCO bakal mampu meningkatkan penjualan bijihnya hingga sekitar 37 juta ton pada tahun 2027, setelah proyek HPAL di Pomalaa dan Morowali rampung.

“Kami positif terhadap perkembangan proyek JV HPAL, yang akan membuka potensi peningkatan laba INCO secara keseluruhan melalui penjualan bijih limonit,” tulis J.P. Morgan.

Pembukaan Tambang

INCO belakangan mematangkan rencana penghimpunan dana eksternal mencapai US$1,2 miliar atau sekitar Rp19,56 triliun (asumsi kurs Rp16.301 per dolar AS) untuk pengembangan blok tambang.

Head of Corporate Finance and Investor Relation INCO Andaru Brahmono Adi mengatakan pendanaan itu bakal diesekusi secara bertahap sampai 2027 mendatang.

Rencanannya, pendanaan eksternal itu bakal berasal dari pinjaman bank dan penerbitan obligasi.

“Saat ini Vale masih melakukan assesment secara internal dalam bentuk corporate loan ataupun kemudian bond itu,” kata Andaru kepada awak media saat buka puasa bersama di Jakarta, Jumat (6/3/2026).

Berdasarkan hitung-hitungan INCO, porsi pinjaman bank bakal mencapai US$500 juta pada awal 2026. Sementara itu, penerbitan obligasi mengambil bagian mencapai US$600 juta sampai dengan US$700 juta pada 2027 mendatang.

Dia menjelaskan dana eksternal tersebut akan digunakan untuk membiayai 3 proyek tambang utama yang sepenuhnya dimiliki oleh INCO, yakni Bahodopi, Pomalaa, dan Sorowako.

Bahodopi menjadi proyek terdekat yang akan mulai beroperasi pada tahun ini, disusul Pomalaa pada kuartal II/2026. Adapun proyek Sorowako menjadi tahapan terakhir dari ekspansi INCO saat ini.

Di sisi hilirisasi, INCO menjalin kerja sama dengan sejumlah mitra global untuk membangun fasilitas HPAL, untuk proyek Pomalaa, Vale telah menggandeng Huayou dan Ford dalam pengembangan smelter HPAL.

Sementara itu, proyek Bahodopi dijalankan bersama GEM, dan Sorowako kembali melibatkan Huayou sebagai mitra. Kendati demikian, Vale masih terus menjajaki peluang kemitraan tambahan untuk proyek-proyek HPAL saat ini. 

“Untuk Tambang Pomalaa ditargetkan rampung pada kuartal II/2026, sementara smelter HPAL-nya dijadwalkan tuntas pada kuartal IV/2026. Jadi sudah siap satu rangkaian integrasi,” jelasnya.

Berdasarkan data INCO, proyek pengembangan tambang di Morowali menghabiskan dana sekitar US$399 juta. Rencanannya, blok tambang itu bakal menyumbang kapasitas produksi mencapai 3,84 juta ton saprolit per tahun.

Adapun, pengembangan blok tambang baru di Pomalaa diperkirakan menghasilkan tambahan produksi sebesar 28,15 juta saprolit dan limonit. Belanja modal untuk pengembangan blok tambang ini mencapai US$1 miliar.

Selanjutnya, INCO turut mengalokasikan belanja modal sekitar US$257 juta untuk pengembangan blok tambang baru di Sorowako. INCO berharap blok tambang dari Sorowoko itu menambah kapasitas produksi 11,5 juta limonit setiap tahunnya.

-- Dengan asistensi Artha Adventy

(naw)

No more pages