Healey menambahkan bahwa "pola serangan Iran memiliki ciri khas yang sangat mirip dengan cara Rusia menyerang Ukraina". Menurutnya, hal tersebut wajar terjadi "mengingat betapa eratnya aliansi agresi ini tumbuh dalam beberapa tahun terakhir."
Kerja sama militer antara Rusia dan Iran semakin intensif sejak Rusia dikucilkan dunia internasional setelah invasi ke Ukraina pada 2022. Kini, perhatian juga tertuju pada China. Senator Demokrat dari Connecticut, Richard Blumenthal, menyatakan bahwa Rusia membantu Teheran "secara aktif dan intensif, dengan intelijen dan mungkin juga dengan cara lain." Ia menambahkan bawah "China mungkin juga membantu Iran."
Namun, juru bicara Kedutaan Besar China di Washington, Liu Pengyu, membantah keras keterlibatan Beijing. Ia menyebut tudingan itu "tanpa dasar" dan mengeklaim China memainkan "peran konstruktif untuk meredam eskalasi dan memulihkan perdamaian."
Di sisi lain, Utusan Khusus AS Steve Witkoff menyebutkan dalam wawancara dengan CNBC pada Selasa bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin membantah telah berbagi informasi dengan Teheran dalam percakapan telepon dengan Presiden AS Donald Trump.
"Rusia bilang mereka tidak berbagi informasi—itu kata mereka, jadi kita bisa pegang kata-kata mereka," kata Witkoff. "Ini pertanyaan yang lebih tepat untuk para analis intelijen. Mari berharap mereka benar-benar tidak berbagi."
Meski demikian, Putin secara terbuka menyatakan “dukungan yang tak tergoyahkan untuk Teheran” dan mengucapkan selamat kepada Mojtaba Khamenei atas penunjukannya sebagai pemimpin tertinggi baru Iran, setelah ayahnya tewas pada jam-jam awal pemboman AS dan Israel yang memicu perang tersebut. Putin juga berjanji akan tetap menjadi mitra yang dapat diandalkan bagi Republik Islam Iran, meskipun ia menghindari kritik terhadap Trump atas perang tersebut.
Moskow secara rutin menggunakan drone serang sekali pakai buatan Iran untuk menyerang kota-kota Ukraina dan infrastruktur energi negara itu. Iran kemudian memasok teknologi yang memungkinkan Rusia memproduksi drone mematikan tersebut secara massal.
Sebagai imbalan atas dukungan perang itu, Rusia selama bertahun-tahun berbagi pengetahuan militer sensitif — sebuah pertukaran yang kini semakin mendalam dalam beberapa hari terakhir seiring konflik Iran dengan AS, Israel, dan negara-negara Teluk. The Washington Post dan CNN pertama kali melaporkan sebagian dukungan intelijen Rusia kepada Iran.
“Pelajaran yang dipetik sebenarnya sudah berlangsung sepanjang perang di Ukraina, tetapi implikasinya kini terlihat di sini,” kata Andrea Kendall-Taylor, mantan pejabat senior intelijen AS yang kini bekerja di Center for a New American Security. “Kita melihatnya terjadi secara langsung, dalam kasus nyata.”
Kendall-Taylor menilai taktik Iran yang menargetkan infrastruktur minyak untuk menimbulkan kerusakan maksimal pada lawan kemungkinan dipelajari dari konflik Rusia di Ukraina, baik secara tidak langsung maupun langsung. Rusia juga memiliki pengalaman menghadapi persenjataan buatan AS, termasuk rudal Patriot dan rudal taktis permukaan-ke-permukaan ATACMS, di Ukraina. “Mereka juga bisa berbagi sebagian pengetahuan tersebut dengan Iran,” katanya.
Penggunaan drone murah secara luas oleh Iran dalam konflik ini juga memberi tekanan pada militer AS dan sekutu negara-negara Teluk, memaksa mereka menggunakan sistem pertahanan yang pada dasarnya dirancang untuk menghadapi senjata yang lebih canggih.
Sekutu Barat juga kesulitan memperkirakan berapa banyak drone yang dimiliki dan diproduksi Iran dibandingkan dengan rudal dan peluncur roketnya, karena fasilitas produksi drone dapat dibangun dengan lebih mudah secara ad hoc, kata salah satu sumber yang mengetahui hal tersebut. Faktor kunci bagi kemampuan Iran memproduksi drone adalah apakah mereka mampu menyelundupkan mesin untuk perangkat tersebut.
Selain itu, belum jelas bagaimana tepatnya China mungkin memberikan dukungan kepada Iran, selain sebagai pembeli utama minyak Iran dan membantu menopang perekonomiannya. Beijing sebelumnya juga membantu Rusia secara tidak langsung selama invasi ke Ukraina, termasuk melalui perusahaan komersial yang menyediakan citra satelit serta pengetahuan untuk membangun drone.
Ketika ditanya apakah China membantu Iran dengan informasi mengenai militer AS, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun mengatakan dalam konferensi pers di Beijing pada Kamis bahwa ia “tidak mengetahui apa yang Anda sebutkan.”
Senator Partai Republik Tom Cotton, ketua komite intelijen, mengatakan kepada Fox News pada Rabu bahwa ia tidak dapat mengonfirmasi maupun membantah laporan mengenai dukungan China dan Rusia kepada Iran. Namun ia memperingatkan bahwa “Rusia dan China, jika mereka memberikan bantuan apa pun kepada Iran, sedang bermain dengan api.”
(bbn)



























