“Nah, kita sedang berpikir juga untuk setelah Maret, bagaimana prosesnya sedang kita lakukan inovasi-inovasi agar nanti kebutuhan dari komoditas yang saya bacakan tadi tidak menurun secara drastis dan menimbulkan masalah pada April dan ke depan,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, berdasarkan bahan tayangan Laode yang ditampilkan, stok operasional BBM, avtur hingga liquified petroleum gas (LPG) milik PT Pertamina (Persero) per 9 Maret 2026 dalam kondisi terjaga atau di atas standar kecukupan nasional.
Stok Pertalite (RON 90) tercatat sebesar 2.021.505 kiloliter (Kl) dengan rencana penyaluran harian atau daily objective throughput (DOT) mencapai 81.964 kl per hari, sehingga ketahanan stok nasional atau coverage days (CD) berada di level 25,09 hari, di atas batas minimum 18,2 hari.
Untuk Pertamax (RON 92), stok nasional tercatat 622.846 Kl dengan penyaluran 24.004 kl per hari dan ketahanan stok 26,56 hari. Stok Pertamax tersebut ebih tinggi dari batas minimum 19,9 hari.
Sementara itu, Pertamax Turbo (RON 98) memiliki stok 37.959 kl dengan penyaluran 1.596 kl per hari, sehingga ketahanan stok mencapai 23,26 hari, sedikit di atas batas minimum 22,3 hari.
Lebih lanjut, pada BBM jenis Solar (CN 48), stok nasional tercatat 1.360.279 Kl dengan penyaluran harian 86.227 kl, menghasilkan ketahanan stok 16,28 hari. Stok Solar CN 48 hampir setara dengan batas minimum 16,3 hari.
Sementara itu, Pertamina Dex (CN 53) memiliki stok 83.383 kl dengan penyaluran 1.979 kl per hari dan ketahanan stok mencapai 44,43 hari, jauh di atas batas minimum 24,9 hari.
Untuk avtur, stok nasional tercatat 529.861 kl dengan penyaluran 13.998 kl per hari, sehingga ketahanan stok mencapai 38,42 hari, melampaui batas minimum 26 hari.
Adapun untuk LPG, stok nasional tercatat 297.330 metrik ton (MT) dengan penyaluran 25.887 MT per hari, menghasilkan ketahanan stok 11,51 hari, sedikit di atas batas minimum 11,4 hari.
Stok minyak tanah atau kerosene sebanyak 29.701 Kl dengan penyaluran 1.521 Kl per hari dan ketahanan stok 19,30 hari.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menyatakan pemerintah tengah mengkaji langkah mitigasi kenaikan harga dan pengetatan pasokan minyak dunia, salah satunya dengan mempercepat peningkatan campuran bahan bakar nabati.
Bahlil mengaku sedang mempertimbangkan untuk mendorong percepatan implementasi mandatori biodiesel B50 dan mandatori bensin dengan campuran etanol 20% atau bioetanol E20.
“Mungkin kita akan mendorong untuk mempercepat B50 sebagai salah satu alternatif. Kemudian, kita akan mempercepat penerapan E20. Karena kalau harga minyak fosil bisa melampaui US$100 per barel, maka akan lebih murah jika kita melakukan blending,” kata Bahlil kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Senin (9/3/2026).
Di sisi lain, sejumlah negara sudah mulai menerapkan pengetatan konsumsi BBM hingga melakukan kebijakan untuk melindungi pasokan BBM domestik.
Salah satu contohnya Vietnam, negara itu bakal menghapus tarif impor BBM dan mempermudah perusahaan raksasa negara PetroVietnam untuk membeli dan menjual minyak mentah dan produk minyak, seiring dengan meluasnya perang di Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran akan keamanan energi.
Selain itu, Myanmar memberlakukan pembatasan kendaraan pribadi, menyusul gangguan pada jalur perdagangan migas di Timur Tengah. Mobil pribadi dan sepeda motor—kecuali kendaraan listrik—hanya akan diizinkan beroperasi di jalan raya setiap dua hari sekali berdasarkan nomor pelat kendaraan mereka.
Lalu, Thailand mengatakan akan menangguhkan ekspor bahan bakar. Pengolah lain di Asia sedang mempertimbangkan untuk mengurangi produksi. Pabrik di China dan Jepang kemungkinan besar akan melakukannya.
Pemerintah Thailand juga akan mewajibkan sebagian besar instansi pemerintah untuk menerapkan sistem kerja dari rumah atau work from home (WFH) sepenuhnya sebagai bagian dari langkah-langkah darurat untuk menekan permintaan energi.
(azr/wdh)


























