Logo Bloomberg Technoz

Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, menambahkan bahwa pemerintah terus mencermati dan mengantisipasi dampak dari konflik di Timur Tengah. Berdasarkan perkembangan terbaru, konflik menunjukkan tanda-tanda mereda.

"Tetap kita harus waspadai risiko (harga minyak) di sekitar USD 90-100 per barrel. Apalagi kalau gangguan di Selat Hormuz itu berkelanjutan. Namun kita juga lihat kemungkinan (harga minyak) kembali ke USD 70 atau sekitar USD 80 per barel. Semoga konflik ini tidak berkelanjutan dan tidak panjang.
Kalau itu terjadi, maka kita harapkan harga minyak kembali stabil," ucapnya. 

Sebagai langkah antisipasi jangka panjang, pemerintah berupaya memperkuat ketahanan energi agar tidak terpukul ketika terjadi gangguan pasokan minyak bumi.

"Pemerintah tentu terus berusaha memperkuat ketahanan energi, menjaga kecukupan cadangan energi nasional, dan memastikan pelancaran pasokan energi secara domestik. Ketegangan geopolitik juga menimbulkan risiko pada perdagangan global," tutupnya.

(red)

No more pages