Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan aktivitas manufaktur global mulai menguat. Situasi ini juga memberikan sinyal positif bagi sektor manufaktur Indonesia untuk terus menjadi salah satu motor penting pertumbuhan ekonomi nasional, terutama dengan dukungan permintaan domestik yang kuat serta keberlanjutan kebijakan industri.
Dibandingkan dengan kondisi global, Purbaya menilai posisi Indonesia saat ini masih cukup kompetitif.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pemerintah tetap perlu mewaspadai berbagai tantangan global, termasuk potensi gangguan rantai pasok serta risiko kenaikan inflasi yang dapat meningkatkan biaya input produksi.
Di tengah ketidakpastian global tersebut, Purbaya mengeklaim kondisi ekonomi domestik tetap terjaga dengan baik.
Ia menyinggung pertumbuhan ekonomi Indonesia terakhir yang mencapai 5,39%. Menurutnya, angka tersebut masih memiliki potensi untuk tumbuh lebih cepat.
Purbaya bahkan optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai kisaran 5,5% hingga 6%.
Dari sisi eksternal, ia juga menyebut fundamental ekonomi tetap kuat dengan surplus neraca perdagangan yang berlanjut selama 69 bulan berturut-turut serta cadangan devisa yang memadai sebesar 152 miliar dolar.
“Sementara itu, inflasi tetap terkendali dan stabilitas harga terjaga,” kata Purbaya.
(ell)




























