"Kebijakan DHE penting karena memperkuat likuiditas valas di dalam negeri. Selama ini tekanan terhadap rupiah sering kali terjadi ketika pasokan dolar di pasar domestik terbatas dan kita terlalu bergantung pada arus modal portofolio jangka pendek," tegas Fakhrul.
Meski demikian, ia mengingatkan ketidakpastian global masih perlu diwaspadai, terutama terkait arah kebijakan Amerika Serikat dan perkembangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk Iran, yang berpotensi memicu volatilitas pasar keuangan.
Sebab apabila tekanan terjadi terlalu lama maka hal ini dapat mempengaruhi ekspektasi inflasi domestik serta stabilitas pasar obligasi, karena dalam kondisi tersebut tekanan terhadap rupiah bisa menjadi lebih persisten.
Kebijakan pemerintah, kata Fakhrul, harus koheren dan opsi kebijakan seperti pemangkasan Anggaran Makan Bergizi Gratis [MBG] tetap harus dipertimbangkan untuk dilaksanakan.
"Stabilitas rupiah bukan hanya soal intervensi bank sentral. Ini juga soal kredibilitas keseluruhan kerangka kebijakan ekonomi—bagaimana stabilitas nilai tukar, inflasi, dan disiplin fiskal bisa berjalan seimbang," ujarnya.
"Dalam sejarahnya, rupiah memang sering mengalami tekanan lebih dulu ketika dunia sedang bergejolak. Tetapi ketika tekanan eksternal mulai mereda dan pasar kembali melihat fundamental ekonomi dengan lebih jernih, rupiah juga memiliki kemampuan untuk pulih lebih cepat daripada yang banyak orang perkirakan," tuturnya.
Sebagai catatan saja, pada perdagangan pagi ini, Selasa (10/3/2026), nilai kontrak rupiah offshore dibuka stagnan di Rp16.982/US$ lalu tak berselang lama sempat melemah 0,43% ke posisi Rp16.964/US$. Saat pasar Asia dibuka, rupiah offshore mendapat tenaga dengan kembali menguat ke posisi Rp16.898/US$.
(ell)





























