“Baru satu hari [naik di atas US$100/barel], hitungan kita kan setahun penuh. Kalau rata-rata setahun US$100/barel, berarti kan naik terus ke atas. Ya, kita lihat kondisi APBN kita sepertinya apa,” ujarnya.
Dalam kaitan itu, Purbaya memastikan momentum pertumbuhan ekonomi tidak terganggu dan masih akan berekspansi. Dia pun belum melihat gangguan aktivitas ekonomi dalam negeri imbas kenaikan harga minyak yang terus melonjak.
“Jadi teman-teman yang lain, jangan cepat-cepat memastikan atau menyimpulkam harga minyak akan US$100/barel terus. Bahkan ada yang bilang US$150/barel, dan kita anggarannya akan nggak kuat. Kita akan ases terus dari waktu ke waktu,” jelas Purbaya.
Di sisi lain, dia juga menyebut perhitungan skenario oleh Kementerian Keuangan dalam simulasi risiko (stress test) terkait lonjakan harga minyak mentah dunia terhadap APBN 2026 juga bisa berubah-ubah tergantung keadaan.
Diketahui, dari hasil simulasi Kementerian Keuangan, ketika harga minyak dunia melonjak hingga tembus US$92/barel maka berpotensi memperlebar defisit APBN menjadi 3,6% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), lebih tinggi dari batas aman fiskal yang selama ini dijaga pemerintah.
Secara year-to-date (ytd) harga rata-rata minyak mentah masih di level US$68,43/barel.
“Hitungan kita kan berubah-ubah terus tergantung dengan keadaan. US$92/barel saja kalau rata-rata kan sekarang belum US$100/barel kan sekarang rata-ratanya. Jadi masih di bawah itu. Jadi masih tenang-tenang,” ucap dia.
“Yang jelas, kita monitor dari waktu ke waktu, dan saya enggak akan terlambat mengambil keputusan kalau diperlukan,” tegas Purbaya.
Sekadar catatan, per hari ini, Senin (9/3/2026), harga minyak dunia melonjak. Harga minyak jenis brent dan light sweet meroket masing-masing 26,09% dan 27,68% dibandingkan penutupan perdagangan akhir pekan lalu menjadi US$ 117/barel dan US$ 116,04/barel. Ini menjadi yang tertinggi dalam lebih dari 2,5 tahun terakhir.
Laju kenaikan harga minyak mentah dunia didorong oleh kebijakan sejumlah produsen utama Timur Tengah yang mulai memangkas produksi, yang diperberat lumpuhnya jalur pelayaran di Selat Hormuz, serta ancaman Amerika Serikat (AS) untuk memperluas cakupan konflik yang saat ini telah mengguncang pasar energi global.
Uni Emirat Arab dan Kuwait telah mulai mengurangi produksi karena fasilitas penyimpanan mereka terisi penuh dengan cepat akibat penutupan Selat Hormuz. Tindakan serupa telah dilangsungkan oleh Irak yang mulai menghentikan sebagian produksinya sejak minggu lalu, seperti yang dilaporkan Bloomberg News.
Pergerakan harga minyak dunia juga tak lepas dari kembali meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Perang antara AS dan Israel vs. Iran belum menunjukkan tanda–tanda mereda setelah serangan seminggu lalu.
(lav)






























