Jika glikogen habis, tubuh kekufian memproduksi glukosa melalui glukoneogenesis. Ketika tubuh mulai membakar lemak (lipid) dan menghasilkan badan keton, hingga akhirnya, peralihan ini membantu tubuh bertahan selama periode tanpa makanan.
Selain itu, ketika berpuasa tubuh juga mengalami adaptasi metabolik. Di mana, puasa dapat memicu peningkatan oksidasi lemak, penurunan insulin, dan perubahan metabolisme energi. Alhasil, perubahan ini dapat meningkatkan efisiensi metabolik.
Berdasarkan 79 studi klinis yang dilakukan pada manusia, dengan sebagian besar berlangsung selama tiga minggu hingga enam bulan, dan melibatkan peserta dengan kondisi obesitas, didapati sejumlah manfaat medis.
Berpuasa dapat menurunkan berat badan, meningkatkan sensitivitas insulin, penurunan trigliserida hingga penurunan LDL atau kolesterol jahat. Meski dalam jurnal tersebut menyatakan manfaat berpuasa tanpa penurunan berat badan masih belum jelas, tapi disebutkan bahwa puasa memiliki potensi manfaat metabolik, terutama bagi orang dengan kelebihan berat badan.
Sementara itu, laporan dari jurnal Endocrine Reviews yang diterbitkan oleh Endocrine Society menyebutkan bahwa berpuasa memiliki hubungan dengan ritme biologis tubuh.
Penelitian menunjukkan, jika waktu makan diselaraskan dengan jam biologis tubuh, kesehatan metabolik dapat menjadi lebih optimal dan risiko penyakit kronis dapat berkurang.
Sebaliknya, makan pada waktu yang tidak teratur dapat mengganggu sinkronisasi sistem biologis tubuh dan meningkatkan risiko penyakit.
Beberapa manfaat yang ditemukan dalam penelitian tersebut adalah berpuasa intermiten dapat membantu penurunan berat badan, meningkatkan kualitas tidur, meningkatkan kualitas hidup, hingga menurunkan risiko obesitas, diabetes, dan penyakit jantung.
Peneliti dari Salk Institute for Biological Studies di La Jolla, California, Satchidananda Panda, Ph.D., menjelaskan bahwa puasa intermiten juga dapat meningkatkan kualitas hidup. “Puasa intermiten dapat memperbaiki kualitas tidur serta membantu menurunkan risiko obesitas, diabetes, dan penyakit jantung,” pungkas Panda.
































