Lalu, permintaan avtur diprediksi naik hingga 2,8%, sedangkan minyak tanah atau kerosin, diprediksi mengalami kenaikan konsumsi hingga 4,2%.
Roberth menyebut Pertamina memprediksi puncak arus pergi terjadi dalam dua gelombang, yakni gelombang pertama pada 14—15 Maret 2026 dan gelombang kedua pada 18—19 Maret 2026.
Arus balik diperkirakan terjadi dalam dua tahap yaitu 24—5 Maret 2026 dan 28—29 Maret 2026.
Dalam kesempatan itu, Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron menyatakan meskipun jalur perdagangan migad di Selat Hormuz ditutup, stok BBM Pertamina diklaim dalam keadaan terjaga dalam menghadapi Idulfitri.
Baron mengatakan stok BBM yang disiapkan untuk Idulftiri 2026 sudah didatangkan sebelum konflik terjadi, sehingga pengadaannya tak terdampak penutupan jalur dagang migas dunia tersebut.
“Untuk stok BBM Itu sudah kami siapkan sebelum kejadian ini. Jadi untuk Ramadan dan Idulfitri sudah kami siapkan sehingga untuk masyarakat harap tenang, tetap bijak mempergunakan energi,” kata Baron dalam kesempatan yang sama.
Adapun, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengklaim pasokan minyak mentah, BBM, dan LPG dalam kondisi aman menjelang hari raya Idulfitri.
Bahlil mengklaim seluruh stok komoditas tersebut berada di atas standar minimum nasional yakni 21 hari.
“Khusus untuk menyangkut dengan persiapan hari raya, ya hari raya Idulfitri, bulan puasa, alhamdulillah teman-teman, saya menyampaikan bahwa untuk stok BBM kita, crude, BBM, LPG, itu semua rata-rata di atas standar minimum nasional,” kata Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, dikutip Rabu (4/3/2026).
“Kita tahu bahwa standar minimum nasional adalah 21 hari. Ini semuanya di atas 21 hari,” tegas dia.
(azr/wdh)





























