Jika proyeksi ini terealisasi, maka awal tahun ditandai oleh rebound tajam aktivitas perdagangan. Ekspor yang kembali tumbuh dua digit mengindikasikan permintaan eksternal mulai membaik atau setidaknya stabil.
Sementara lonjakan impor sering kali jadi cerminan denyut produksi dalam negeri. Di saat industri meningkatkan kapasitas, kebutuhan bahan baku dan barang modal ikut terdongkrak. Dalam konteks awal tahun, faktor musiman juga tak bisa diabaikan. Sebab Februari akan diwarnai Ramadan dan Maret memasuki Idul Fitri, periode yang secara historis menjadi momentum konsumsi rumah tangga dan distribusi barang.
Dengan begitu, agaknya industri manufaktur dan sektor perdagangan mulai mengisi kembali persediaan sejak Januari untuk mengantisipasi lonjakan permintaan pada periode tersebut.
Jika lonjakan impor ini benar terjadi, agaknya pertumbuhan impor yang lebih tinggi menjadi gambaran bahwa pelaku usaha cukup optmimis terhadap prospek konsumsi domestik jangka pendek.
Akan tetapi dari sisi neraca perdagangan, kombinasi ekspor 11,9% dan impor 20% berarti surplus berpotensi menyempit dibanding bulan-bulan sebelumnya, terutama jika harga komoditas tidak melonjak signifikan.
(lav)





























