Logo Bloomberg Technoz

Arab Saudi bersama beberapa produsen lain telah mempercepat ekspor minyak dalam beberapa hari terakhir seiring pengerahan aset militer AS ke Timur Tengah yang meningkatkan ketegangan kawasan. Tahun lalu, Riyadh juga sempat meningkatkan pasokan ketika terjadi serangan AS sebelumnya terhadap fasilitas nuklir Iran.

“Apa pun angka kenaikan yang diumumkan OPEC+, mereka berpotensi harus menarik dari stok penyimpanan untuk benar-benar memenuhi angka tersebut,” kata Helima Croft, kepala strategi pasar komoditas di RBC Capital Markets LLC. “Kapasitas cadangan sangat terbatas dan hanya berada di Arab Saudi.”

Presiden Donald Trump pada Sabtu mendesak rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintah mereka ketika AS menjalankan “operasi tempur besar” terhadap Republik Islam dan Israel meluncurkan serangan udara “pencegahan” ke sejumlah target di negara itu. Teheran mengeklaim telah melakukan serangan balasan terhadap pangkalan militer AS di Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, dan Kuwait.

Serangan tersebut terjadi dua hari setelah delegasi Iran dan AS bertemu di Swiss untuk putaran ketiga perundingan mengenai aktivitas nuklir Teheran. Iran sebelumnya menyatakan optimistis terhadap arah pembicaraan, namun Trump pada Jumat mengatakan tidak puas dengan perkembangannya.

Kerentanan arus energi kawasan kembali terlihat pada Sabtu ketika kelompok Houthi, milisi yang berbasis di Yaman dan memiliki hubungan dengan Teheran berjanji melanjutkan serangan terhadap pelayaran di koridor Laut Merah.

Di sisi lain, para pelaku pasar juga mencermati situasi di Selat Hormuz, yang menjadi titik fokus setiap terjadi gejolak kawasan karena sekitar seperlima minyak dunia yang diangkut melalui laut, serta sebagian gas melintasi jalur tersebut setiap hari.

Arab Saudi memegang sebagian besar kapasitas produksi cadangan minyak dunia, yang mampu menambah sekitar 1,8 juta barel per hari, menurut Badan Energi Internasional. Uni Emirat Arab memiliki rencana kontinjensi untuk menambah setidaknya 1 juta barel per hari, kata seorang delegasi.

Di antara lokasi yang menjadi sasaran di Iran, kantor berita semi-resmi Mehr melaporkan ledakan di Pulau Kharg, yang merupakan terminal ekspor minyak utama, meski tanpa rincian lebih lanjut. Fasilitas minyak tidak menjadi target dalam serangan terhadap Iran pada Juni lalu, dan Trump telah berjanji menurunkan harga bahan bakar.

Di bawah arahan Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya kerap mengambil kebijakan hati-hati dalam menghadapi peristiwa geopolitik, dengan memilih menunggu apakah dampaknya signifikan sebelum bertindak.

Kerajaan tersebut sebelumnya juga terdampak konflik kawasan, terutama saat serangan 2019 terhadap fasilitas pemrosesan Abqaiq, -yang diklaim oleh sekutu Houthi Iran-  yang sempat melumpuhkan produksinya.

OPEC+ tidak secara kolektif mengubah kebijakan setelah serangan terhadap Iran musim panas lalu, maupun ketika AS menangkap pemimpin Venezuela Nicolas Maduro pada awal tahun ini.

Namun, pasar minyak sejauh ini menentang ekspektasi sepanjang 2026.

“Pasar sebelumnya dihargai berdasarkan asumsi ‘kelebihan pasokan’ yang kini mulai terlihat lebih banyak fiksi,” kata Jeff Currie, chief strategy officer energy pathways di Carlyle Group Inc. “Tidak ada ruang untuk kesalahan, yang berarti ada banyak ruang untuk reli.”

Meski pasokan global melebihi permintaan, berbagai gangguan dari Amerika Utara hingga Kazakhstan dan Rusia telah meredam kelebihan tersebut. Sebagian besar surplus terdiri dari barel yang terkena sanksi dari Rusia atau Iran  yang tidak tersedia bagi pasar umum  atau diserap China untuk cadangan strategis.

Membuka keran produksi lebih besar dapat sejalan dengan tujuan jangka panjang OPEC+. Selama hampir setahun, Arab Saudi dan anggota kunci lain berupaya merebut kembali pangsa pasar yang diambil pesaing seperti produsen shale AS, dengan menghidupkan kembali produksi yang dihentikan sejak 2023 meski ada peringatan bahwa pasar global telah cukup terpenuhi.

(bbn)

No more pages