"Presiden Trump memiliki ketidaksukaan pribadi yang sangat kuat terhadap senjata nuklir, terutama jika jatuh ke tangan Iran. Hal ini bahkan lebih krusial baginya dibandingkan kekhawatiran terhadap tingginya harga minyak," ujar Bob McNally, Presiden Rapidan Energy Group, dalam pengarahan langsung pada Kamis (26/2).
Berdasarkan situs prediksi pasar Polymarket, peluang serangan AS terhadap Iran sebelum 1 Maret melonjak drastis menjadi 26% pada Jumat sore waktu New York, naik signifikan dari hanya 9% pada awal sesi perdagangan.
Ketegangan semakin meruncing setelah inspektur nuklir PBB menemukan adanya aktivitas rutin yang tidak dapat dijelaskan di situs pengayaan uranium Iran yang sempat dibom. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan gangguan arus minyak melalui Selat Hormuz.
"Iran memiliki kemampuan untuk membuat Selat Hormuz tidak aman bagi pelayaran komersial dalam hitungan minggu, bukan lagi hitungan jam atau hari," tambah McNally.
Akibat situasi yang tidak menentu, dua perusahaan pelayaran besar pada Jumat mengumumkan pengalihan rute kapal melalui selatan Afrika, menghindari Laut Merah dan Terusan Suez guna menghindari serangan kelompok Houthi yang didukung Iran.
Selain konflik geopolitik, para pedagang juga menantikan pertemuan pasokan OPEC+ yang dijadwalkan pada hari Minggu ini. Analis dari Commerzbank menyebut bahwa meski OPEC+ kemungkinan hanya akan menaikkan produksi sedikit mulai April, risiko geopolitik akan tetap menjaga harga minyak tetap tinggi untuk saat ini.
Harga:
- WTI untuk pengiriman April melonjak 2,8% ke level US$67,02 per barel.
- Brent untuk penyelesaian April ditutup naik di level US$72,4 per barel.
- Kontrak Mei yang lebih aktif menguat 2,9% dan menetap di posisi $72,87 per barel.
(bbn)






























