"Ini ada banyak gap datanya. Jadi bnyak baran masuk yang tidak terdata. Jadi ini biang keroknya perusahaan kargo yang juga bermain," tegas dia.
Adapun, Maman mengatakan, lambannya UMKM dalam negeri naik kelas tersebut salah satunya tecermin dalam data realiasi penyaluran kredit UMKM perbankan sepanjang 2025 tercatat mencapai Rp1.580 triliun.
Sementara itu, sebanyak Rp287 triliun diantaranya disalurkan melalui program, kredit usaha rakyat (KUR). Artinya, lanjut Maman, sisa kredit UMKM non KUR maka tercatat sekitar Rp1.300 triliun.
Angka itulah yang membuat UMKM lamban naik kelas lantaran pemerintah, termasuk perbankan masih kerap membiayai UMKM dengan besaran anggaran yang cukup tinggi. "Ini yang mau kita petakan dan evaluasi, kit akan petakan satu persatu seperti apa mitigasi, apa masalahnya. Ternyata masalahnya ada di pasar," kata Maman.
(wep)
































